Richard Gurley Drew (1899-1980)

20 08 2009

Pencipta Alat Perekat Serbaguna

Scoth tape atau selotip transparan merupakan alat bantu untuk merekatkan kertas yang sobek atau untuk membundel hasil fotokopian. Selain itu, dalam dunia sains selotip transparan juga bisa digunakan untuk alat pengoreksi bentuk mata dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sinar-X.

Keberadaan selotip merupakan karya kreatif seorang penemu asal negeri Paman Sam Amerika Serikat, pada 1925. Richard Gurley Drew lahir 22 Juni 1899 di St. Paul, Minnesota. Semenjak kecil dan dewasa, ia tinggal di kota kelahirannya. Pria lulusan Universitas Minnesota ini memiliki bakat yang luar biasa dalam bidang penemuan, salah satunya melalui penemuan selotip.

Kisah penciptaan selotip berawal dari bergabungnya Richard di perusahaan bernama 3M atau Minnesota Mining and Manufacturing Company yang merupakan perusahaan internasional dalam bidang kimia, yang pada masa itu dikenal sebagai produsen ampelas.

Saat itu, Richard sedang melakukan penelitian mengenai mekanisme pengerjaan cat mobil dua warna yang sedang tren. Penelitiannya itu membuahkan hasil. Richard berhasil membuat suatu analisa bahwa pengerjaan pewarnaan yang berbeda dalam satu bidang mobil sulit dilakukan karena belum ada teknik yang memudahkan memisahkan dua warna yang berbeda. Hal tersebut segera menginspirasinya untuk membuat solusi berupa perekat tempel yang kini dikenal sebagai selotip. Hasil Penemuan Richard itu pada saat melakukan uji coba untuk produk ampelas, di laboratorium tempatnya bekerja, di Maplewood, Minnesota, Amerika Serikat.

Pada 1925, Richard berhasil menciptakan selotip transparan dengan lebar dua inci yang pinggirnya diberi lem perekat. Meskipun belum sempurna, Richard nekad melakukan uji coba pertama pada sebuah mobil. Hasilnya belum memuaskan, dikarenakan selotip itu terus saja terkelupas karena memang hanya memiliki perekat di pinggirnya. Richard pun segera melakukan perbaikan terhadap produk buatannya itu. Ia lantas membuat lem yang kuat namun bentuknya transparan untuk memperkuat selotip tersebut.

Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa perekat pada selotip ciptaan Richard dibuat dari campuran karet, oli, dan minyak damar untuk memberikan efek rekat pada selotip. Setelah perbaikan itu, produknya berhasil diterima pasar dan dikenal dengan nama Scotch Brand Cellulose Tape. Dalam masa dua puluh tahun, Richard berhasil menjual produknya dengan menghasilkan keuntungan 47 juta dollar.

Berkat penemuannya yang brilian, karier Richard teus menanjak. Di puncak kariernya ia berhasil mendirikan produk pabrikasi laboratorium, pada 1943. Laboratorium ini berhasil menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kepentingan publik, di antaranya bedah kaset, busa kaset, listrik insulations, masker wajah, dan lainnya.

Selotip untuk sinar-X

Dalam perkembanganya, selotip transparan yang biasa digunakan sebagai perekat bisa digunakan untuk alat pengoreksi bentuk mata dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sinar-X. Seorang sarjana dari University of California, Los Angeles, Escobar berhasil menciptakan sinar-X dari selotip buatan Richard.

Dalam jurnal Nature, Escobar menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap orang bisa menghasilkan sinar-X cukup dengan mengelupaskan selotip atau melakukan sesuatu yang mirip dengan apa yang dilakukan mesin dengan tenaga manusia, seperti memutar engkol dengan sedikit pemurnian. Proses itu dapat dimanfaatkan untuk membuat mesin sinar-X murah bagi petugas paramedis atau tempat terpencil yang sulit listrik.

Meskipun, lebih dari lima puluh tahun lampau, beberapa ilmuwan Rusia melaporkan bahwa bukti sinar-X yang dihasilkan ketika mengelupaskan selotip dari gelas. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa kita bisa memperoleh sinar-X dalam jumlah besar dengan tenaga yang bisa diperoleh hanya dari mengelupaskan selotip sangat besar.

Mesin buatan Escobar mampu mengelupaskan selotip dari gulungannya dalam sebuah bilik hampa udara dengan kecepatan 3 sentimeter per detik. Pulsa sinar-X yang amat cepat, sekitar sepermiliar dari satu detik, terpancar dari tempat selotip terlepas dari gulungannya.

Dari tempat itulah elektron berlompatan dari gulungan selotip ke bagian bawah selotip yang lengket. Lompatan itu menempuh jarak sekitar dua per seribu dari satu inci, kata Escobar. Ketika elektron tersebut menyentuh bagian yang lengket itu, mereka melambat dan memancarkan sinar-X. Escobar dan UCLA mengajukan paten untuk penemuan mesin penghasil sinar-X dari selotip. Temuan terbaru Eskobar itu, berkat jasa dari pemikiran Richard yang berhasil menemukan selotip pertama di dunia.

Richard Gurley Drew meninggal pada hari Minggu 14 Desember 1980, saat berusia 81 tahun karena usia yang sudah tua. Jasadnya dikuburkan di Santa Barbara, Calif, Amerika Serikat. Berkat penemuan alat perekat selotip, Richard dikenal sebagai penemu dan mentor terkemuka khususnya di perusahaan 3M.***

Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.

Muat Dalam Pikiran Rakyat,  edisi Cakrawala Kamis 20 Agustus 2009





Sir James Dewar (1842-1923)

5 02 2009

Pencipta “Thermos Flask”

 

Penemuan vacuum flask (tabung hampa udara) oleh Sir James Dewar di Oxford University, menjadi cikal bakal penemuan termos tempat menyimpan air panas dan dingin untuk minuman. Penemuan yang diciptakan secara tidak sengaja ini menjadi produk hotter atau cooler bagi produk minuman di dunia.

 

netJames Dewar, lahir 20 September 1842, di Kincardine-on-Forth, Scotlandia. Ia dibesarkan dari keluarga yang berprofesi sebagai pedagang anggur. Semenjak kecil dan dewasa ia tinggal di kota kelahirannya. Setelah lulus dari bangku sekolah, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Edinburgh dan menjadi murid ilmuwan kimia Lyon Playfair.

 

Pada tahun 1869, setelah lulus kuliah ia melanjutkan karier intelektualnya menjadi dosen di Royal College Veteriner. Selain mengajar, ia juga sering melakukan penelitian. Sebagian karya penelitiannya lebih banyak dilakukan di Inggris karena fasilitas untuk percobaan jauh lebih baik daripada di negara kelahirannya. Dewar pun mendapatkan gelar profesor di bidang kimia dari Royal College Veteriner, London.

 

Pada tahun 1904, Dewar melakukan penelitian bersama dengan John Fleming, ahli kimia pada University College London. Keduanya meneliti daya tahan elektris pada suhu -200 dan 200 derajat Celsius. Keduanya memprediksikan daya tahan itu hilang pada -273,15 derajat Celsius. Teori ini lantas dikenal sebagai teori superkonduktivitas.

 

Pada saat mengerjakan projek itulah secara tak sengaja ia menemukan tabung hampa udara. Tabung itu menggantikan bejana yang selama ini terbuat dari kaca. Awalnya, penemuan termos merupakan adaptasi dari tabung hampa udara yang digunakan untuk pengiriman dan penyimpanan gas cair. Namun, Dewar melihat peluang lain dari temuannya itu. Ia kemudian mengembangkan tabung hampa udaranya menjadi sebuah termos yang mampu mempertahankan suhu dingin dan panas.

 

Thermos flask yang berbentuk botol terbuat dari kaca berdinding rangkap, ruang di antara kedua dinding dibuat hampa dan satu dinding dalam ruang hampa ini dilapisi perak. Dengan dinding semacam ini, isi di dalam termos tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan -perubahan keadaan di luar.

 

Pada termos terdapat dinding kaca yang bagian dalam dan bagian luarnya dibuat mengilap. Bagian dalam kaca dibuat mengilap agar kalor dari air panas tidak terserap pada dinding. Sementara itu, bagian luar dinding kaca dibuat mengilap berlapis perak agar tidak terjadi perpindahan kalor secara radiasi. Ruang hampa di antara bagian dalam dan luar berfungsi mencegah perpindahan kalor secara konveksi. Tutup termos terbuat dari bahan isolator, seperti gabus, mencegah terjadinya perpindahan kalor secara konduksi.

 

 

Pada tahun 1904 temuan brilian Dewar ini diproduksi secara komersial dengan pendirian perusahaan Thermos GmbH. . Meski begitu, Dewar tidak turut serta dalam pendiriannya. Pada 1907, Perusahaan thermos GmbH menjual hak merek dagang untuk perusahaan-perusahaan diantaranya perusahaan thermos botol asal Tottenham, Inggris, dan Thermos Botol Co Ltd dari Montreal, Kanada. Produk Thermos ciptaan Dewar adalah milik atau nama merek dagang dilindungi oleh casing logam

 

Selain menciptakan thermos, Dewar membuat sejumlah kontribusi yang signifikan untuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada awal tahun 1890-an, ia menjadi ilmuwan pertama untuk memproduksi oksigen cair, dan kemudian pertama untuk memproduksi solid oksigen dan hidrogen.

 

Pada 1905, Dewar juga berhasil menemukan cara membuat arang dari kulit kelapa. Ketika di didinginkan pada suhu -185 derajat Celsius, ternyata kulit kelapa itu bisa menyerap gas. Dengan menempatkan arang ke dalam tabung dan mendinginkannya, ia berhasil mendapatkan kehampaan yang dibutuhkannya itu. Puas dengan temuannya itu Dewar lalu meneliti gelembung film. Terutama tekanan pada permukaan dan analisa gelombang suara. Hasilnya pada 1921, ia berhasil mengukur radiasi matahari dengan menggunakan instrumen pendingin yang menggunakan oksigen cair.

 

James Dewar meninggal tahun 1923 saat berusia 80 tahun di London, Inggris. Sampai akhir hayatnya, ia dikenal sebagai peneliti yang banyak menciptakan penemuan.

Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung

Muat dalam Pikiran rakyat, 5 Februari 2009, edisi Cakrawala





Dennis Gabor (1900-1979)

27 11 2008

Penemu Holografi

TAHUN 1960, dalam dunia industri, dihebohkan penggalakan teknik laser yang menghasilkan hologram untuk dimanfaatkan secara komersial. Teknik ini digunakan secara luas, antara lain untuk menguji desain produk tertentu. Para seniman visual menggunakannya pula dalam menampilkan kreasi dan gagasan mutakhir.

Teknologi yang menjadi latar belakang terciptanya hologram ini lahir dari fisikawan Hongaria, Dennis Gabor, yang mengembangkan teori holografi sejak tahun 1947. Gabor lahir 5 Juni 1900 di Budapest, Hongaria. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Bertalan Gabor dan Adrienne. Dalam kehidupannya, Gabor termasuk orang yang berada. Ayahnya, seorang direktur di salah satu perusahaan pertambangan

Semenjak kecil ia sudah mencintai ilmu fisika. Ia mendapat pendidikan di Budapest dan Berlin. Pada tahun 1924, ia lulus dan mendapatkan gelar diploma dari Technische Hochschule Berlin. Gabor pun berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berhasil mendapatkan gelar sarjana.

gabor_dennis_b3Setelah lulus, Gabor mengembangkan karier intelektualnya di perusahaan Siemens dan Halske AG di Jerman. Namun, pada 1933, setelah Hitler berkuasa ia melarikan diri dari Nazi ke Inggris. Di negara Britania ini Gabor bekerja dalam pengembangan Departemen British Thomson-Houston di Rugby, Warwickshire.

Pada 1947, saat bekerja di Departemen British Thomson-Houston, Gabor menemukan holografi. Penemuan yang brilian ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Gabor. Awalnya Gabor sedang berusaha meneliti mikroskop elektron. Ia mengembangkan teori untuk mengembangkan kemampuan mikroskop elektron itu. Pada saat ia berusaha membuktikan teorinya tersebut ia tidak menggunakan pancaran elektron, tetapi justru menggunakan cahaya. Dengan percobaan itu, Gabor malah menemukan teori holografi, ilmu yang memproduksi hologram. Dengan teori tersebut, ia berhasil menciptakan hologram pertama di dunia. Istilah hologram ciptaan Gabor berasal dari Bahasa Yunani holo dan gramma, untuk teknik ini, yang berarti “pesan menyeluruh”.

Sebagian besar literatur menyebutkan, hologram dibuat Gabor melalui proses pembelahduaan selajur sinar laser. Lajur pertama, disebut “acuan”, menyinari selembar lempeng peka foto atau film, sedangkan lajur kedua menyinari objek untuk diholografikan. Cahaya yang direfleksikan objek ini bertabrakan di atas lempengan tadi, dan menciptakan pola gabungan yang, setelah dikembangkan lagi, menampilkan citra 3D. Pada waktu itu, hologram hanya membutuhkan satu ruangan, tempat citra tertentu ditembakkan sehingga seolah-olah menjadi bagian dari ruangan itu sendiri. Citra tadi, dengan sendirinya, menimbulkan kesan nyata dan sangat fantastis. Namun sayang, hologram ciptaan Gabor tidak tersedia secara komersial sampai pengenalan laser pada 1960.

Dalam perkembangannya sinar yang dibutuhkan untuk menciptakan hologram yang lebih baik adalah sinar laser yang baru dikembangkan pada tahun 1960. Hologram ini berhasil dikembangkan oleh Pribram. Ia sangat jeli membaca konsep holografi sehingga menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam sel-sel otak, melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan hologram.

Pada tahun 1979, dua ilmuwan Soviet berhasil mengadaptasi temuan Dennis Gabor dengan sinehologram. Eizykman dan Fihman mulai bekerja sama di bidang hologram, ketika keduanya menjadi guru besar sinema di Universitas Paris. Dengan alat yang dirancang khusus, mereka membuat empat sinehologram berukuran 35 mm dan 70 mm. Itulah yang dipertunjukkan di College of France, Paris. Dengan dana sekitar 58 ribu dolar AS dari Fond d`Intervention Culturelle, keduanya kemudian mulai bergelut dengan film holografi berukuran 126 mm. Penggunaan film lebar ini merupakan langkah pertama untuk membuat sinehologram yang bisa ditonton lebih dari dua orang dalam waktu bersamaan. Ketika itu pula mereka menerima uluran tangan dari perusahaan Prancis Aerospatiale, yang mengirimkan satu tim insinyur dan seniman untuk belajar ke GK Lasers di Rugby, Inggris

Berkat temuannya melalui hologram, Dennis Gabor berhasil meraih Hadiah Nobel Fisika pada 1971. Di samping dianugerahi Penghargaan Nobel, Gabor menjadi anggota Royal Society London pada 1956, dan anggota kehormatan Akademi Ilmiah Hongaria pada 1964.

Dennis Gabor meninggal pada 9 Februari 1979, pada usia 79 tahun. Selain penemu hologram, Gabor juga dikenal sebagai penemu teori sintesis granular yang meneliti bagaimana manusia berkomunikasi dan mendengar. (Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)***

Dalam Pikiran Rakyat, Cakrawala Kamis 27 November 2008





Stephanie Kwolek (1923-Sekarang)

31 10 2008

Kevlar, Penakluk Peluru

PENEMUAN serat karbon (kevlar) ternyata memberikan manfaat yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Salah satunya dalam pembuatan rompi antipeluru. Rompi ini berbahan dasar logam jenis baja atau titanium, keramik atau jenis polimer yang dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap bagian-bagian vital pemakainya. Kevlar yang dikenal juga sebagai twaron dan poli-parafenilen tereftalamida diciptakan oleh Stephanie Kwolek, seorang penemu asal Kensington, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Stephanie Kwolek lahir pada tahun 1923 di Kensington, Pennsylvania. Semenjak kecil ia sudah tertarik padanet ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran. Semenjak ayahnya meninggal ketika Stephanie berumur 10 tahun, dia bertekad untuk lebih mendalami bidang sains. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia mendaftarkan diri kuliah di Carnegie Institute of Technology. Begitu lulus dari bangku kuliah, Stephanie langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan Dupont Chemicals.

Tahun 1965 menjadi puncak karier bagi Stephanie Kwolek. Bersama rekan kerjanya, Herbert Blades, ia melakukan riset yang menghasilkan serat fiber yang luar biasa kuat, ringan, dan fleksibel. Dengan sokongan dana dari perusahaan DuPont dan teknologi fiber, mereka berhasil membuat penemuan yang brilian. Kevlar merupakan merek dagang yang terdaftar oleh E.I. de Pont de Nemours and Company.

Setelah melakukan kerja keras selama beberapa tahun, Stephanie memublikasikan temuannya itu, kevlar pun diluncurkan pada tahun 1971. Karena kevlar sangat fleksibel, penggunaannya menjadi sangat populer.

Awal 1970-an, kevlar diproduksi untuk bahan pelapis berbagai kebutuhan industri di dunia. Di antaranya industri otomotif yang kerap menggunakan kevlar untuk peranti keselamatan ataupun bagian-bagian lain otomotif. Bahkan, mulai dari sarung tangan oven di dapur hingga rompi antipeluru menggunakan lapisan kevlar.

Di dunia militer, kevlar digunakan untuk bahan rompi antipeluru modern. Kevlar dikenal juga sebagai suatu serat sintetik yang kekuatannya lima kali kekuatan tembaga, dengan berat yang sama. Rompi ini melindungi pemakainya dengan cara menahan laju peluru. Ketika rompi menahan penetrasi peluru, dorongan dari peluru direduksi dengan menyebarkan momentumnya ke seluruh tubuh.

Kendati demikian, pemakainya tetap akan merasakan energi kinetik dari peluru, hal ini dapat menyebabkan luka memar, bengkak, atau luka dalam yang cukup serius. Kevlar sangat tahan terhadap panas dan terdekomposisi di atas 400 derajat Celsius tanpa meleleh. Dengan penggunaan rompi berbahan kevlar, bisa meminimalkan cedera karena terkena peluru.

Setelah ditemukan kevlar, bahan antipeluru lain terus dikembangkan, di antaranya DSM`s Dyneema, Akzo`s Twaron, Toyobo`s Zylon, Honeywell`s GoldFlex, semuanya merupakan merek dagang. Bahan-bahan yang baru ini lebih ringan, tipis, dan lebih tahan dibandingkan dengan kevlar, namun harganya lebih mahal. Kevlar sekarang hampir identik dengan teknologi tinggi untuk bahan yang bisa tahan panas, lima kali lebih kuat sebagai baja, dan lebih ringan dari fiberglass.

Berkat jasanya, pada tahun 1999, Stephanie Kwolek memenangi 1999 Lemelson-MIT Lifetime Achievement Award. Selain itu, Kwolek juga menerima berbagai penghargaan lain

(Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Dalam Pikiran Rakyat, Cakrawala Edisi 30 Oktober 2008





Edwin Beard Budding (1795-1846)

31 10 2008

Pencipta Mesin Pemotong Rumput

Bagi pemilik rumah yang memiliki areal tanah yang luas akan selalu mendapatkan kesulitan untuk memotong rumput yang tumbuh secara liar dihalaman rumah. Tentu saja tumbuhan liar itu akan sangat menggangu bagi keindahan halaman rumah kita. Seorang penemu asal Inggris, Edwin Beard Budding menemukan mesin pemangkas rumput yang memudahkan dalam proses memotong rumput. Dalam waktu singkat halaman rumah akan terlihat rapi dan bersih dari rumput.

Edwin Beard Budding, lahir pada tahun 1830, di kota Stroud, Gloucestershire, Inggris. Semenjak kecil ia telah memiliki bakat sebagai seorang penemu.Orang tuanya adalah seorang petani di kota kelahirannya. Meski tergolong miskin, orang tuanya sanggup menyekolahkan Budding hingga mendapatkan gelar insinyur. Sebelum menciptakan mesin pemotong rumput, Budding bekerja sebagai pemotong kain di sebuah pabrik pakaian di Chalford. Ditengah kesibukan dalam memotong kain, ia masih sempat memikirkan untuk menciptakan sesuatu untuk kepentingan publik.

Suatu hari, ia memiliki sebuah ide untuk menciptakan sebuah mesin yang bisa bekerja cepat untuk memotong rumput di halaman rumahnya. Daya kreatifnya muncul dengan tercetus sebuah ide untuk menciptakan sebuah mesin pemotong rumput. Budding mulai tertarik menciptakan mesin pemotong rumput setelah terinspirasi dengan memperhatikan cara kerja mesin pemotong pakaian yang berbentuk silinder. Mesin tersebut menempel pada semacam papan untuk menghaluskan pakaian setelah ditenun. Dengan tekun Budding mengamati cara kerja mesin pemotong pakaian itu.

Perlahan tapi pasti, Pada 1927, Budding mulai menggambarkan konsep kerja mesin pemotong kain tersebut untuk diterapkan sebagai mesin pemotong rumput. Sebagian besar ahli mesin pada waktu itu menyebutkan, mesin pemotong rumput buatan Budding terbuat dari besi dengan menempelkan roda yang berpisau. Dalam prosesnya nanti, pisau ini akan digerakkan mesin tersebut untuk meratakan permukaan rumput. Sejak saat itu Budding dikenal oleh masyarakat Inggris sebagai seorang insinyur tekstil yang berhasil membuat mesin pemotong rumput pertama. Alat ini merupakan adaptasi dari tekanan putar yang digunakan untuk memotong serat pada karpet.

Setelah beberapa tahun Budding berhasil membuat model pertama mesin pemotong rumput. Bahkan, Budding mengajak seorang insinyur lokal John Ferrabee untuk berkolaborasi mengembangkan temuannya yang brilian itu. Merasa yakin ciptaannya bisa memberikan nilai jual, pada 18 Mei 1830, Budding mendapatkan suntikan dana John Ferrabee untuk mendirikan pabrik mesin pemotong rumput di kota kelahirannya, Stroud, Gloucestershire, Inggris. Pada 25 Oktober 1830, ia mematenkan karya yang briliannya itu di Inggris.

Pada 1831, untuk pertama kalinya, mesin pemotong rumput ciptaan Budding mulai dikenalkan ke publik dengan ujicoba pertama di taman Zoological Inggris. Hasilnya cukup memuaskan. Masih ditahun yang sama, pabrik Budding memproduksi secara massal mesin yang bisa memotong rumput secara cepat dan terjual hingga 1000 unit. Sepuluh tahun kemudian, Budding kembali membuat inovasi baru untuk membuat mesin pemotong rumput dengan menggunakan tenaga kuda.

Dalam perkembangannya, mesin ciptaan Budding terdapat delapan model mesin pemotong rumput dengan berbagai jenis. Bahkan, pabrik yang dibangunnya ini mampu memproduksi hingga 5000 unit pertahunnya. Sejak saat itu, tipe-tipe mesin pemotong rumput (potrum) mulai dikenal dan yang sering digunakan adalah tipe reel mower, rotary mower, dan flail mower. Pada dasarnya reel mower terdiri dari sebuah silinder reel yang berputar dilengkapi dengan pisau-pisau berbentuk helik, dan menghasilkan efek potong dengan adanya pisau horisontal yang tetap (bed knife). Reel mower mempunyai kualitas pemotongan terbaik diantara mesin mower lainnya. Meski demikian, tanpa diketahui sebabnya pabrik yang dibangun dengan susah payah ini mengalami kebangkrutan.

Hingga pada awal 1900, unit yang sama dibuat. Alat ini didorong dengan tangan, ditarik oleh kuda, atau diberi tenaga oleh mesin uap sampai penemuan mesin pemotong dengan tenaga bensin.Sebelum perang dunia pertama dimulai Thomas Green berhasil mengembangkan penemuan brilian Budding. Temuannya ini tentu saja dengan mengenalkan inovasi baru. Mesin pemotong rumput yang dinamakan the Silens ini bisa bergerak dengan cepat dan praktis karena mesin ini menggunakan rantai.

Edwin Beard Budding meninggal pada tahun 1846 dikarenakan penyakit stroke. Ia dimakamkan di kota kelahirannya. Berkat jasanya, model pertama mesin pemotong tersebut diabadikan di Museum Stroud, museum ilmiah London, dan Museum Milton Kyenes.(Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)





Walter Hunt (1795-1859)

28 08 2008

Terdesak Hutang Menciptakan Peniti 

Dalam kehidupan sehari-hari, peniti tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Di sebagian wilayah Indonesia peniti dijadikan simbol kebudayaan seperti di Jawa dan Bali. Peniti identik dengan perempuan sebab memiliki fungsi sebagai pengait atau kancing pada baju kebaya dan kamben (kain) yang biasa dikenakan perempuan. Namun pernahkah terlintas dalam benak kita untuk mengetahui siapakah orang yang berjasa pada penemuan kecil ini?.

Berterimakasihlah kepada Walter Hunt seorang penemu asal Winchester, Amerika Serikat. penemuan yang diciptakan sekitar tahun 1849, dilatarbelakangi oleh tekanan  untuk membayar hutang 15 dollar kepada temannya.

Walter Hunt lahir  29 Juli 1796, di Martinsburg, New York. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Sherman dan Rachel Hunt. Semenjak kecil, Hunt tinggal dikota kelahirannya. Ia mendapatkan pendidikan dasarnya di sebuah sekolah kecil yang memiliki satu ruang kelas. Pada 1817, Hunt lulus dari kuliah di Masonry. Setelah lulus ia menikah dengan Polly Loucks dan memiliki 4 orang anak.

Hunt mengembangkan karir intelektualnya  di bidang usaha tekstil yang pada saat itu menjadi mata pencaharian  utama masyarakat  kota Lowville, sebuah kota kecil  di Lewis Country, New York. Ia bersama keluarganya membangun bisnis tekstil kain wol dan katun. Bersama saudara laki-lakinya Hiram Hunt, ia merintis di bidang jasa pemintalan wol. Namun, bisnis itu tidak berlangsung dikarenakan mengalami kerugian yang cukup besar.
 
Meski disibukkan oleh pekerjaannya, Hunt yang juga pintar di bidang mekanik ini masih sempat menciptakan beberapa barang yang berguna bagi kepentingan publik, di antaranya adalah alat pemintal benang, alat pengasah pisau, bel untuk mobil jalanan, tungku pembakar batubara, batu buatan, mesin pembersih jalan, pengeruk es dan mesin pembuat surat. Namun hasil temuannya ini tidak membantu untuk meningkatkan ekonomi keluarganya. 
 
Bahkan Hunt yang lebih memilih untuk menikah muda ini, harus susah payah untuk melunasi hutang kepada temannya sebanyak 15 dollar. Dari tekanan dan kegelisahan, ia berpikir untuk menciptakan sesuatu yang akan menolongnya melunasi hutangnya. Suatu ketika, Walter Hunt sedang memilin potongan kabel hingga terciptanya sebuah peniti. Pada waktu itu peniti digunakan sebagai alat bantu untuk menyematkan kain tanpa kancing. Bahkan, peniti ini biasanya dipakai untuk mengaitkan celana dengan atasan yang digunakan sebagai representasi pakaian pekerja muda saat itu.

Agar tidak ditiru oleh orang lain, Hunt memantenkan peniti ciptaannya Pada 10 April 1849. Kelak di kemudian hari, hak paten tersebut dia jual dengan harga 400 dollar. Tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya bisa mendapatkan miliaran dolar dari hasil penemuannya itu.

Sebelum ditemukan oleh Walter Hunt, sebenarnya peniti telah dikenal sejak 14 abad sebelum masehi di Micenae. Peniti tradisional itu disebut fibulae yang fungsinya serupa dengan peniti yang kita pakai sekarang. Namun ujungnya tak tertutup sehingga sering melukai pemakainya dan tak mempunyai per sehingga tak dapat memegang dengan erat. Namun kegunaan peniti baru bisa dinikmati manfaatnya setelah walter Hunt berhasil menemukan peniti yang lebih simpel dan sederhana dan aman digunakan

Dalam perkembangannya peniti digunakan gaya hidup oleh subkultur atau komunitas punk. Komunitas ini menggunakan peniti sebagai salah satu style yang populer sejak pertengahan 1970-an di Inggris Raya. Gaya itu dinyatakan pertama kali muncul berkat kreasi Richard Hell dan semakin populer karena fotonya dimuat di majalah komunitas punk. Disain peniti ini juga sudah berkembang dan bermacam-macam dan berwarna warni dan sering ditambahin pernak-pernik sebagai hiasan baju. Bahkan, peniti juga dijadikan sebuah hadiah penghargaan dengan terbuat dari emas.

Walter Hunt meninggal pada tanggal 8 Juni 1859 dikarenakan penyakit Pneumia. Jasadnya dikuburkan di pemakaman Green-Wood di Brooklyn, New York. Hingga sekarang masyarakat negeri paman sam mengenangnya sebagai seorang yang banyak menciptakan inovasi baru dalam bidang penemuan. Meski telah menciptakan banyak penemuan, hingga akhir hayatnya Hunt tidak pernah menikmati hasil keuntungan dari ciptaannya.(Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Muat Dalam Pikiran Rakyat, edisi Cakrawala, Kamis 28 Agustus 2008





SIR CHRISTOPHER SIDNEY COCKERELL (1910-1999)

14 08 2008

Pencipta Kendaraan Serba Guna Hovercraft

Sebuah revolusi baru di bidang transportasi  publik yang dapat beroperasi di laut maupun darat diluncurkan di Solent, pantai selatan Inggris pada tahun 1960-an. Kendaraan yang berbentuk ampibi atau yang lebih dikenal dengan  Hovercraft sangat bermanfaat sekali untuk angkutan penumpang dan barang. Adalah Christopher Cockerell seorang ahli permesinan asal Inggris yang menemukannya sarana transportasi serbaguna ini.

Sir Christopher Sydney Cockerell lahir pada 4 Juni 1910 di Cambridge, Inggris. Ia lahir dari keluarga terpandang. Ayahnya Sir Sydney Cockerell, adalah seorang kurator Fitzwilliam Museum yang menjadi sekretaris William Morris. Christoper menikmati pendidikan dasarnya di di Gresham’s School. Ia masuk kuliah di Cambridge University Inggris, dengan mengambil ilmu elektronika. Ia juga aktif dalam organisasi kemahasiswan dengan menjadi anggota Peterhouse.

Setelah lulus kuliah, Pada 1910, Christopher mengembangkan karir intelektualnya dengan bekerja di Radio Research Company. Namun, pekerjaan yang banyak menyita waktunya  membuatnya bosan. Kemudian setelah menikah dengan Lady Margaret Cockerell, ia bekerja di perusahaan Marconi di tahun 1935. Namun selama perang dunia kedua berlangsung, ia lebih tertarik untuk bekerja membangun sistim radar di negaranya yang pada waktu itu, pemerintahan Iggris  masih dipimpin oleh Winston Churchill.

Setelah perang dunia berlalu, Pada 1950, Christopher mempunyai ide untuk membuat sebuah kapal yang bisa berlayar lebih cepat dengan mengurangi jumlah gesekan ketika berjalan melalui air. Hovercraft yang dibayangkan Christopher  pada waktu itu sebagai sebuah perpaduan antara pesawat udara, sebuah kapal, dan kendaraan di darat. Hovercraft digerakkan sebuah bantalan berisi udara yang dibuat tenaga kipasnya. Oleh karena itu, Hover berada tepat di atas ombak laut dan mesti menghindari permukaan tanah yang tidak rata.

Ia kemudian mengujicoba model Hovercraft pertama dengan mengadaptasi teori hover (melayang) dengan menggunakan mesin penyedot debu dan dua kaleng silinder.  Dengan ujicoba ini, insinyur asal inggris ini berhasil membuktikan bahwa sebuah kendaraan dapat melayang di atas permukaan dengan tekanan udara. Sebagian besar literatur menyebutkan, temuan yang dipatenkan sebagai hovercraft principle ini membuktikan prinsip kerja pemerangkapan udara dan ditiupkan keluar dengan tekanan, menjadikan wahana dapat bermobilitas diberbagai permukaan, dari lumpur yang lembek, permukaan air, rawa sampai daratan.

Christoper  lalu membuat prototipe kendaraan yang menggunakan bantalan udara. Bentuk awalnya,  lebih mirip piring terbang ketimbang sebuah kapal. Untuk mengembangkan temuannya yang brilian ini,  Christoper harus  berusaha keras untuk meyakinkan pemerintah Inggris. Lima tahun kemudian,  Christoper berhasil meyakinkan kementerian negara, namun tidak diperkenankan memproduksi secara besar-besaran, karena penemuannya ini dimasukkan ke daftar rahasia negara yang dapat memberikan keuntungan bagi militer. Setelah mendapatkan kepercayaan penuh, Christoper baru bisa mengembangkan proyek tersebut dengan sokongan dana dari National Research Development Council sebesar 150 ribu poundsterling. Pada tahun 1958 National Research and Development Corporation mengambil alih rancangan tersebut dengan membayar hak paten sebesar 1.000 Pound Sterling serta mengganti rugi biaya unit eksperimennya.

Namun pada 1959, Hovercraft rancangan Christoper kemudian diproduksi oleh pihak Saunders-Roe. Untuk pertama kali, kapal jenis SRN-1 yang bisa bergerak di permukaan yang relatif halus, seperti daratan dan air tanpa bersentuhan dengannya diluncurkan di Solent, pantai selatan Inggris. Kapal yang memiliki berat 6.600 pon, untuk pertamakalinya melakukan perjalanan dari Perancis ke Inggris dalam peringatan 50 tahun Bleriot’s cross Channel flight.

Dalam perkembangannya, hovercraft digunakan untuk berbagai keperluan. Inggris, India, dan Cina menggunakannya sebagai angkutan penumpang dan barang. Hovercraft tipe SRN-4 yang dioperasikan di Selat Inggris mampu mengangkut 370 penumpang dan 50 sedan dengan kecepatan jelajah 110 kilometer per jam. Hovercraft juga telah digunakan dalam berbagai operasi militer sebagai kapal pendarat pasukan ataupun tank dari laut atau danau ke daratan. Karena memiliki tekanan permukaan yang kecil, kendaraan ini dapat berjalan melintasi pantai yang ditanami ranjau. Pendaratan tank dan pasukan Amerika Serikat menggunakan hovercraft pada Perang Teluk di Kuwait mampu melewati pantai yang penuh ranjau serta masuk ke daratan sampai sejauh 10 mil. Amerika juga telah memanfaatkan hovercraft untuk mengangkut peralatan berat dalam berbagai misi kemanusiaan

Berkat temuan Christoper melalui hovercraft sangat membantu memperlancar transportasi di wilayah yang belum tersedia sarana pelabuhan yang memadai. Cukup dengan adanya pantai yang landai, hovercraft dapat mendarat. Bandingkan dengan sebuah kapal laut dan jetfoil yang memerlukan sarana pelabuhan yang memerlukan biaya pembangunan yang tidak murah.

Sir Christopher Sydney Cockerell wafat di Hythe, Hampshire pada 1 Juni 1999. Ia meninggal, 3 hari sebelum merayakan ulang tahunnya ke 88 tahun. Atas jasanya di bidang penemuan hovercraft, Christopher dianugerahi gelar bangsawan Inggris tahun 1969.

Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung
Muat Dalam Pikiran-Rakyat, Edisi Cakrawala Kamis, 14 Agustus 2008





Conrad Hubert (1856-1928)

25 07 2008

Dari Pot Bunga Temukan Lampu Senter

SEMENJAK cahaya dari sinar lampu ditemukan oleh si cerdas serba bisa, Thomas Alva Edison, manusia di dunia tidak perlu takut lagi menghadapi gelap. Dalam perkembangannya lampu didesain beragam bentuk sesuai dengan fungsinya. Seperti yang dilakukan oleh imigran Rusia bernama Conrad Hubert. Pada tahun 1897, ia berhasil menciptakan lampu senter. Uniknya, temuan itu terinspirasi oleh sebuah pot yang dipasangi baterai.

Conrad Huber yang bernama asli Akiba Horowitz, lahir pada 15 April 1856, di Minsk, Russia. Ia lahir di tengah keprihatinan, keluarganya bukan termasuk golongan berada, sehingga ia tidak merasakan pendidikan di bangku sekolah. Semenjak kecil, ia sudah membantu orang tuanya mencari uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ia pernah bekerja di toko cerutu, membuka warung, dan bahkan jadi tukang jam. Apapun dikerjakannya, tetapi semua itu tidak menghasilkan cukup uang.

Ketika kebijakan antisemit merebak di tanah kelahirannya, aktivitas bisnisnya tergangu. Pada 1891, Hubert memutuskan untuk beremigrasi ke di Amerika Serikat (AS). Sesampainya di negeri paman sam ia memutuskan untuk berganti nama pada usia 35 tahun. Saat itu ia benar-benar tidak punya uang. Hubert berusaha apa saja untuk menghidupi diri. Di tengah tekanan dan kegelisahan, ia kemudian tertarik pada industri yang berhubungan dengan kelistrikan. Maka ia pun kemudian mencoba menjual berbagai macam alat yang berhubungan dengan listrik dan baterai, misalnya kipas angin portabel, lampu saku, hingga produk unik seperti pot bunga yang bersinar. Maka, ia pun makin tertarik dengan produk-produk berenergi baterai.

Suatu ketika, di negeri yang dikenal sebagai negara adikuasa itu, Hubert berkenalan dengan Joshua Lionel Cowen, yang juga memiliki pengalaman bisnis di bidang tenaga listrik. Bahkan di lingkungan komunitas bisnis tenaga listrik, Joshua dikenal sebagai orang yang kreatif dalam hal menciptakan inovasi baru. Salah satunya, ia berhasil menciptakan pot bunga yang dipasang baterai sehingga bisa menghasilkan cahaya. Karena tidak punya pekerjaan lain, Hubert memutuskan untuk membantu Joshua menjual pot bunga bercahaya ini. Namun, Joshua tidak menyenangi bidang bisnisnya ini. Ia lebih tertarik untuk berusaha di bidang kereta listrik. Joshua kemudian menjual ide pot bercahaya kepada Hubert dengan harga yang murah.

Conrad Hubert yang memiliki jiwa dalam bidang penemuan memanfaatkan kesempatan itu dengan memodifikasi pot yang memiliki cahaya dari tenaga baterai. Ia kemudian memutar otaknya untuk membuat lampu senter. Pada mulanya, lampu senter produksi Hubert dibuat secara sederhana dan alami, yaitu dengan menggunakan baterai, bohlam dan tabung kertas dari pot hasil buatan Joshua. Setelah dirancang sedemikian rupa, alat yang disebutnya sebagai “obor listrik” menjadi cikal bakal keberadaan lampu senter.

Untuk lebih menyempurnakan alat yang bisa menerangi dalam kegelapan ini, Hubert berkolaborasi dengan David Misell, seorang penemu handal, untuk menciptakan lampu sorot terang yang bisa dibawa ke mana-mana. Maka, terciptalah lampu senter yang pertama. Sebagian besar literatur menyebutkan, senter itu terbuat dari semacam kertas tebal yang digulung dan wadah fiber, serta lampu kecil yang dibungkus reflektor dari kuningan

Kemudian, daya kreatif Hubert mampu memperbanyak penemuan itu. Bahkan sebagai uji coba pertama, Hubert membagikan secara gratis karya briliannya ini kepada polisi di kota New York. Senter buatannya itu mendapat pengakuan dari para polisi di kota itu. Dari sinilah lampu senter makin dikenal orang dan kemudian dipatenkan oleh Hubert pada tahun 1903.

Temuan brilian Hubert ini menarik minat perusahaan besar untuk menjadi investor. Perusahaan yang beruntung mendapatkan sahamnya yakni National Carbon Company. Dari perusahaan ini, Hubert mendapatkan aliran dana segar senilai 200.000 dolar Amerika Serikat. Hubert pun bisa memproduksi ciptaannya secara massal, sekaligus membuat perusahaannya menjadi terkenal hingga saat ini, yaitu Eveready atau singkatan dari The American Ever Ready Company.

Pada tahun 1906, Hubert menjabat sebagai presiden direktur. Sejak saat itu pula merek dagang produk perusahaan itu menjadi Eveready. Berkat bisnis itu, Hubert pun menjadi orang kaya.

Conrad Hubert meninggal 14 maret 1928, saat berusia 72 tahun. Bahkan, sampai akhir hayatnya, Hubert masih menyumbangkan tiga perempat kekayaan yang dimilikinya. Berkat temuannya, lampu senter, ia mampu menciptakan revolusi dalam bidang penerangan. (Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)***
Muat Dalam Pikiran rakyat, Edisi Cakrawala 24 Juli 2008





Chester Flood Carlson (1906-1968)

10 07 2008

Penemu Mesin Fotocopi

Biasanya dalam pekerjaan, mesin fotocopy sangat dibutuhkan untuk memperbanyak data dan dokumen secara singkat. Kita dengan mudah memperbanyak gambar dan tulisan, tinggal pencet tombol, tunggu sejenak, semua pekerjaan penggandaan beres. Pada tahun 1938, mesin Xerography yang mampu menggandakan gambar dan tulisan secara cepat ditemukan oleh Chester F Carlson asal negeri paman sam,  Amerika Serikat.

Chester Carlson lahir 8 Februari 1906 di kawasan kumuh kota  Seattle, Washington.. Semenjak kecil ia harus membantu orangtuanya untuk mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya yang mengidap penyakit tuberculosis. Saat berusia 17 tahun,  ia harus menelan pil pahit, ibunya meninggal dan empat tahun kemudian ayahnya meninggal karena penyakitnya. Walaupun masa kecil harus dilewati dengan penuh tantangan, Carlson mampu menyelesaikan karir intelektualnya hingga bangku kuliah.

Setelah lulus kuliah di California Institute of Technology, Carlson bekerja di sebuah perusahaan analisis paten untuk pembuat produk elektronik. Tugasnya saat itu adalah menyalin semua dokumen dan gambar paten ke dalam beberapa dokumen. Dalam melakukan pekerjaannya Carlson merasa capai dan bosan untuk menulis hal yang sama berulang ulang untuk mendokumentasikan temuan orang lain. Karena kelelahan, Chester pun kemudian berpikir. Bagaimana ia bisa menggandakan dokumen dengan cepat dan praktis. Ia pun membaca berbagai referensi mengenai mesin cetak. Akhirnya, ia menemukan konsep elektrofotografi, yang sekarang kita kenal sebagai mesin fotokopi.

Pada 1938, ia membuat eksperimen kecil yang memanfaatkan bubuk jelaga (karbon) dan penyinaran cahaya dan memindahkan suatu tulisan dari sebuah medium ke medium yang lain. Ia juga menggunakan konsep yang disebut photo-conductivity, sebuah proses perubahan elektron jika terkena cahaya. Intinya, dengan proses ini, gambar bisa digandakan dengan proses perubahan elektron tersebut. Sebagian besar literatur menyebutkan, temuan Carlson menciptakan proses mengkopi dengan menggunakan energi elektrostatik, yaitu xenography. Nama xenography berasal dari bahasa Yunani, radical xeros (kering) dan graphos (menulis). Karena, dalam prosesnya tidak melibatkan cairan kimia, tak seperti teknologi sebelumnya. Melalui teknik ini,  Chester Carlson telah menemukan cara yang merombak paradigma penulis ulangan sebuah dokumen, yang nantinya akan menjadi proses yang disebut fotokopi. Teknik ini kemudian dipatenkan pada 6 Oktober 1942.

Selama beberapa tahun, ia mencoba menyempurnakan temuannya ini. Meski sangat berguna, mesin elektrofotografi ini tidak diminati banyak orang, karena mesin tersebut dianggap tidak memiliki masa depan yang menjanjikan. Chester yang berhasil membuat alat itu harus berjualan konsep bertahun-tahun lamanya agar mesin fotokopi itu bisa dijual di pasaran. Berbagai perusahaan besar seperti Kodak yang menjual peralatan dan proses pemotretan, IBM dan General Electric, menolak temuan itu.

Setelah hampir putus asa, Chester mendapat mitra pertama Batelle Memorial Institute yang bersedia memodali dengan dana dan usaha dan kemudian bersama sama berhasil meyakinkan Haloid, sebuah perusahaan menengah Haloid Corporation, New York yang menjual kertas foto mau menjadi mitranya untuk mengembangkan temuannya.

Haloid Company kemudian merubah nama mesin fotocopy pertama elektrofotografi karena dianggap kurang memiliki nilai jual, lalu diusulkanlah nama dengan nama Xerography. Xerography menjadi komersial setelah diadopsi oleh Xerox Corporation. Salah satu produk awal Xerox adalah Xerox 914, mesin foto kopi otomatis pertama yang menggunakan proses xenography. Dinamai Xerox 914 untuk merujuk pada kemampuan mesin dalam mengkopi kertas dengan ukuran 9 inci x 14 inci (229 mm x 356 mm).

Xerox 914, yang dapat mengkopi hingga 100 ribu kertas per bulan, sangat popular di kalangan masyarakat pada masa itu. Produk ini menyumbang pendapatan perusahaan hingga 60 juta dolar AS. Kesuksesan itu membuat perusahaan memutuskan untuk mengubah namanya dari Haloid menjadi Xerox pada 1958. Hingga kini Xerox merupakan perusahaan mesin foto copy dan printer terkemuka di dunia. Produk yang dihasilkan perusahaan yang kini bermarkas di Stamford, Connecticut, AS itu pada 2006 lalu berhasil membukukan pendapatan 15,9 miliar dolar AS. Jumlah karyawannya mencapai 53.700 orang, tersebar di dunia.

Chester Carlson meninggal pada 9 September 1968, di Rochester, New York,  karena penyakit hati yang kronis. Berkat temuannya melalui mesin fotocopy, Chester Carlson telah menemukan cara yang merombak paradigma penulis ulangan sebuah dokumen. Hingga sekarang, proses ini hampir tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan modern. (Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Muat Dalam Pikiran Rakyat di Suplemen  Cakrawala, Kamis 10 Juli 2008





Alan Mathison Turing (1912 – 1954)

26 06 2008

“Pencipta Mesin Turing”

Perkembangan komputer pada saat ini memang dibilang sangat luar biasa. Berbagai processor jenis baru terus lahir yang membuat  kemampuan komputer terus meningkat dengan pesat. Memang kecepatan komputasi komputer modern makin meningkat tapi konsepnya tetap sama yaitu menggunakan mesin turing sebagai “Ibunya”.

Orang yang berjasa menciptakan mesin turing adalah Alan Mathison Turing, ahli matematika asal Inggris. Ia mengembangkan teori tentang “mesin universal” yang mampu memecahkan persamaan matematis. Selain merupakan peneliti komputer modern digital pertama, Alan juga yang pertama kali berpikir menggunakan komputer untuk berbagai keperluan. Bahkan saat menemukan mesin turing, ia belum lulus kuliah.

Alan Mattison Turing lahir di Paddington London, 23 Juni 1912.  Anak kedua dari Julius Mathison Turing dan Ethel Sara Stoney, melewati awal hidupnya di sebuah rumah panti asuhan di India. Pada tahun 1926, saat berumur 14 tahun, ia kembali ke Inggris untuk melanjutkan studi menengah atas di Sherborne. Minat utamanya ialah dalam bidang matematika dan sains.

Setelah lulus sekolah tingkat atas, ia melanjutkan kuliah di College, Cambridge University. Saat itu, ia mulai terpengaruh oleh buku bacaan mengenai sains dan matematika karangan Von Neumann, Russell dan Whitehead, dan Goedel. Sehingga dalam hasil penelitiannya, Turing lebih banyak “menciptakan kembali” dibandingkan “menggunakan” temuan yang sudah ada. Semasa kuliah juga ia aktif dalam gerakan damai di Cambrige dan juga ikut kelompok homoseksual.

Mesin Turing

Bakatnya di bidang matematika dan sains sungguh luar biasa. Pada tahun 1930, Alan mampu memberikan ide tentang  komputer digital untuk pemecahan berbagai masalah. Ide itu diwujudkan dengan menciptakan Mesin Turing (Turing Machine) yang akan menjadi cikal bakal komputer modern. 

Mesin Turing ini mewujudkan prinsip esensial komputer. Karyanya memperkenalkan sebuah konsep signifikansi praktis yang sangat besar.  Komputasi sendiri pertama kali dianggap sebagai model kognisi sejak ditemukannya arsitektur standar komputer yang dipakai sampai sekarang. Bahkan, dalam buku The History of Psychology yang ditulis oleh George Boerre, Alan mampu menciptakan konsep-konsep ilmu komputer diluar imajinasinya.

Sebagian besar literatur menyebutkan, mesin turing buatan Alan adalah sebuah alat pengubah dan manipulasi basic simbol abstrak, karena kesederhanaanya mesin turing dapat diadaptasikan untuk melakukan simulasi logika yang dapat dibangun oleh berbagai komputer (disini komputer modern). Mesin turing terdiri dari pita yang dapat digunakan untuk membaca dan menulis simbol pada pita mesin turing tersebut. Seperti layaknya finite machine yang lain, mesin turing memiliki mekanisme kontrol yang berada pada salah satu finite states. Salah satu state ini, yang kita kenal dengan initial state dimana mesin turing melakukan awal inisialisasi. Lainnya kita kenal dengan halt state. Ketika mesin mencapai state ini, mesin berhenti melakukan komputasi. Karenanya mesin turing dapat menjadikan pita tersebut sebagai tempat penyimpanan seperti layaknya pushdown automata menggunakan stacknya. Tetapi mesin turing tidak terbatas pada operasi push dan pop ketika mengakses media penyimpanannya. Sejak saat itu, mesin turing merupakan ibu dari semua komputer yang ada saat ini

Pada tahun 1934, Alan berhasil mendapatkan gelar sarjananya. Kecerdasannya mampu menghasilkan beasiswa di Peacton, Amerika Serikat. Setelah mendapatkan gelar Ph.D-nya,  pada tahun 1936, Alan melanjutkan karier intelektual di Depertemen Komunikasi Britania Raya. Selama perang dunia II (1939-1945), bersama intelektual Inggris,  ia ditugaskan untuk menghancurkan mesin Enigma Code (kode Enigma) milik pemerintah Jerman, yang pada waktu masih dipimpin oleh sang diktaktor Adolf Hitler.  

Alan berhasil menghancurkan mesin tersebut dengan  menciptakan “COLOSSUS”, sebuah mesin yang mampu memecahkan kode enigma dalam waktu singkat. Mesin ini juga merupakan suatu awal menuju komputer digital. Kemudian ia dianggap sebagai  pahlawan perang Inggris.

Kemudian tahun 1950, Alan mengeluarkan paper yang berpengaruh besar berjudul “Computing Machinery and Intelligence”. Dalam papernya ini,  Alan mengusulkan “Tes Turing” sebagai sebuah metode untuk menentukan apakah sebuah mesin memiliki “Artificial Intelligence”. Turing melihat otak manusia sebagai sebuah “mesin yang tidak teratur” yang belajar melalui pengalaman. Hingga tahun 1990-an Tes ini masih dianggap sebagai cara yang paling baik untuk menentukan intelegensia dari sebuah mesin.

Alan juga berusaha untuk mewujudkan konsep “Mesin Turing” menjadi kenyataan dalam bentuk “Automatic Computing Engine” di “National Physical Laboratory”, walaupun pekerjaan ini tidak pernah selesai. Kemudian ia berpindah ke University of Manchester, membuat panduan untuk operasi Manchester Automatic Digital Machine (MADAM).

Dibalik segala kesuksesannya, ternyata Alan adalah seorang homoseksual. Ini sudah dimulai sejak ia masih muda, dan kemudian di tahun 1954 ia ditangkap karena melakukan hubungan seksual dengan seorang pemuda. Ia tidak mengambil pembelaan.Dibandingkan masuk penjara, Alan lebih memilih alternatif hukuman suntik Estrogen untuk menetralisir hormonnya. Ia kehilangan izin keamanan disebabkan karena homoseksuallitasnya yang overaktif.

Setelah aktifitas gay diketahui oleh publik, Alan mulai kehilangan pekerjaannya. Karena tidak tahan dengan tekanan publik, pada 7 Juni 1954, Alan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Alan Mattison Turing meninggal pada usia 41 tahun di rumahnya, Wislow, London. Hingga saat ini, selain seorang penemu, Alan masih dianggap sebagai bapak ilmu komputer. (Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Muat Dalam Pikiran-Rakyat, Suplemen Cakrawala Edisi 26 Juni 2008