Laszlo Biro (1899 –1985)

19 06 2008

Sang Jurnalis Pencipta Ballpoint Pen

Ketidakpuasan dalam melakukan aktifitas kerja ternyata membuat orang menjadi kreatif. Salah satunya, Laszlo Biro seorang jurnalis dari negara Hungaria yang merasakan ketidakpuasan itu. Ia merasa “terganggu” oleh pena yang digunakan untuk mengoreksi naskah yang ditulis pada kertas tipis seperti tinta yang melebar, tumpah atau kertas yang sobek karena sabetan pena yang cukup tajam. Pada 1938, bersama saudara laki-lakinya George, ia berhasil menciptakan alat tulis  yang diberi nama Ballpoint Pen.

Laszlo Biro lahir 29 September 1899 di Budapest, Hungaria. Semenjak kecil ia sudah termasuk sosok yang cerdas, berbakat dan memilliki rasa percaya diri yang tinggi. Laszlo  yang cerdas berhasil menyelesaikan studinya dibidang kedokteran, seni, dan ilmu hipnotis. Meski memiliki titel intelektual, Laszlo tidak berminat untuk mengembangkan karir yang sesuai dengan ilmu yang didapatnya semasa dibangku kuliah. Ia lebih memilih untuk menjadi seorang jurnalis.

Suatu ketika, Laszlo  merasa putus asa. Ia acapkali kehilangan waktu gara-gara tinta meleleh dan harus membersihkan lelehan tinta itu. Belum lagi  bekas hapusan tinta bisa merusak atau mengotori kertas berikut mesin cetaknya. Karena tak ingin pekerjaannya terganggu, Laszlo menghubungi saudara lelakinya George. Mereka berkolaborasi merancang  model pen, berikut formula tinta yang lebih baik dari sebelumnya.

Bersama George, seorang kimiawan, dia mengembangkan ujung pen yang baru yang terdiri dari sebuah bola yang dapat berputar dengan bebas pada sebuah lubang. Saat berputar, bola tersebut akan mengambil tinta dari sebuah cartridge, tinta membasahi bola kecil yang mengalir secara kapiler dan dengan bantuan gravitasi. dan kemudian menggelinding agar melekatkannya pada kertas. Karena bola kecil itulah maka pena baru itu dinamakan Ball Point Pen atau yang lazim dikenal dengan nama bolpen.

Sebagian besar literatur menyebutkan, bolpen buatan Laszlo mempunyai ruang internal yang diisikan tinta melekat. Tinta tersebut disalurkan melalui ujungnya saat digunakan dengan penggelindingan sebuah bola kecil (berdiameter sekitar 0,7 mm hingga 1 mm) dari bahan logam. Tintanya segera kering setelah menyentuh kertas. Hasilnya cukup memuaskan. Rancangan ini kemudian dipatenkan di Paris tahun 1938.

Meski demikian, menurut para ahli, bolpen buatan Laszlo ini masih memiliki kelemahan pada desain, kawat gulung dan tinta yang kadang meleleh di kertas. Mereka pun kembali ke laboratorium untuk mendesain ulang, sekaligus menguji dampak tintanya. Hasil yang didapat, pen tampil lebih baik. Keunikan lain, pen itu justru nyaman kalau dipakai dalam posisi miring.

Mendirikan Pabrik

Suatu ketika, saat liburan musim panas, Laszlo bertemu dengan Augustine Justo. Dikemudian hari orang ini berhasil menjadi Presiden Argentina. Dalam pertemuan itu Laszlo  menawarkan hasil karyanya. Gayung pun bersambut. Laszlo diminta untuk segera mendirikan pabrik di Argentina. Penyerangan tentara Nazi ke Hungaria, semakin menguatkan Laszlo untuk pindah ke Argentina. Hak paten penemuannya di Paris dicabut. Kemudian Laszlo mematenkannya kembali di Argentina. Pada 10 Juni 1943, karyanya dijual dengan merek Birome, yang masih bertahan hingga saat ini. Di Tahun yang sama, Laszlo membangun pabrik Ballpoint Pen pertama. Satu tahun kemudian, model pen terbarunya mereka pasarkan ke seluruh Argentina, hasilnya cukup menggembirakan.

Ballpoint buatan Laszlo menarik minat beberapa negara eropa, termasuk pemerintah Amerika Serikat. Bahkan, pemerintah negara Paman Sam itu mengirim beberapa ahli untuk memperdalam karya Laszlo bersaudara. Seorang pengusaha Amerika, Eberhard Faber berani membayar ciptaan Laszlo seharga $500.000. Uang ini sekaligus sebagai bukti hak produksi pen Biro Brothers di Amerika dimilki Ebenhard. Sayang, di tangan pengusaha Ebenhard penjualan ballpoint pen tidak sesuai harapan. Pada bulan Mei 1945, secara resmi Eberhard Faber Company mengalihkan hak paten kepada Eversharp Co.

Tanpa disangka, seorang pengusaha asal Chicago Milton Reynolds membajak hasil Ballpoint pen ciptaan Laszlo.Reynolds nekad mendirikan perusahaan Reynolds International Pen Company di Amerika. Bahkan, Reynolds pun tak mengindahkan hak paten yang sudah dibeli Eversharp Co. Reynold bekerjasama dan memproduksi Ballpoint pen dengan Gimbel’s department store New York, berlabel Reynold’s Rocket. Reynolds pun mengeruk untung besar dari penjualan Ballpoint pen.

Alat tulis buatan Laszlo melampui jamannya,. Dua orang berkebangsaan Inggris, Henry Martin dan Frederick Miles mengembangkan hasil temuan Laszlo dengan membuat ballpoint anti bocor dan meluap untuk digunakan pada pesawat terbang yang digunakan pada Perang Dunia II. Pada waktu yang bersamaan,. Franz Szech, seorang warga California, berhasil membuat tinta jauh lebih awet dan tahan lama berada dalam bolpennya, namun sayangnya tinta itu lambat laun menjadi kering bila terkena udara. Pada bulan Juli 1966, Paul C. Fisher berhasil menciptakan Bolpen khusus ruang angkasa. Uji coba pena tersebut meliputi kondisi di bawah air, ruang tanpa bobot dan tekanan hampa. Pena ini diuji pertama kali oleh Dr Robert Gilruth, Direktur NASA, di Houston, Texas. Pada tahun 1967, bolpen ini lulus ujian dan dipilih untuk digunakan oleh para astronot Apollo.

Laszlo Biro meninggal 24 November 1985 di negara Argentina. Jasadnya boleh terkubur. Namun temuannya yang luar biasa masih tetap dipergunakan hingga sekarang. (Fitriansyah, Almunus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Muat Dalam pikiran-Rakyat Edisi Cakrawala, Kamis 19 Juni 2008





Georges Claude (1870-1960)

19 06 2008

Penemu Lampu Neon

Sejarah perkembangan lampu listrik sudah bermula dari abad-abad yang lampau, ketika kebutuhan manusia akan penerangan pada malam hari muncul. Penemuan lampu pijar oleh penemu serba bisa Thomas Alva Edison, menjawab persoalan itu. Temuannya ini manusia di dunia bisa menikmati cahaya pada malam hari. Penemuan brilian Edison ini kemudian diadaptasi oleh seorang insinyur dan ahli kimia, Georges Claude. Pada 1902,   Pria kebangsaan Prancis menemukan sinar cahaya melalui lampu neon untuk keperluan periklanan.. Berkat usahanya, seluruh dunia mulai mengenal neon (Tube Lamp) hingga saat ini.

Georges Claude, lahir pada 4 September 1870, di kota Paris. Ia tumbuh dan dewasa dikota kelahirannya. Dalam menjalani pendidikan di universitas, ia sangat memuja  Ahli fisika Perancis Jaques d’Arsonval yang mengemukakan konsep konversi energi panas laut, atau KEPL (ocean thermal energy conversion, OTEC) sebagai salah satu penggunaan dari siklus Rankine. Setelah lulus kuliah, Claude melanjutkan karir intelektualnya dengan bekerja membuat tabung oksigen untuk keperluan rumah sakit. 
 
Pada 1902,  insinyur dan ahli kimia berusaha mengembangkan aliran listrik ke dalam tabung gas neon. Usahanya pun berbuah manis. Ia berhasil membuat lampu neon (Neon berasal dari bahasa Yunani Neos, yang berarti gas baru), berwarna merah. Merasa tertarik ia lalu menambah jumlah tabung dan mengisinya dengan neon. Segera setelah itu ia mendapatkan untuk pertama kalinya tabung neon yang sesungguhnya.

Sebagian besar literatur menyebutkan, lampu neon ciptaan Georges Claude,  memiliki sebuah tabung kaca tertutup yang mengandung sangat sedikit udara, sedikit air raksa, bubuk putih fosfor, dan dua elektroda (katoda dan anoda) pada setiap ujung tabung. Selain itu terdapat transformer yang mengatur aliran listrik ke tabung. Begitu saklar dihidupkan transformer mengaliri listrik ke dalam tabung. Aliran listrik tersebut meloncat ( arc ) dari katoda ke anoda sehingga menguapkan air raksa menjadi ion. Gas air raksa mengeluarkan sinar ultraviolet yang tidak tampak yang membentur bubuk putih fosfor sehingga menghasilkan cahaya yang memancar.

Namun penemuan lampu neon belumlah sempurna. Sinar tabung-tabung merah itu tak seperti sumber cahaya lainnya yang berguna untuk keperluan umum sehari-hari, seperti  menerangi rumah atau jalan tangga, akibatnya  lampu neon menjadi lembam.  Pada waktu itu, para ilmuwan dan saintis menyebutkan, kelemahan lampu neon pada waktu itu diakibatkan Neon tak bisa di kompilasikan dengan elemen lain pada tabung lainnya, artinya gas baru tak membutuhkan katup gas.

Meski demikian,  Claude tidak menyerah dan berusaha untuk menyempurnakan temuannya ini. Setelah melakukan penelitian, lampu neon yang memancarkan warna merah ini menarik perhatian dan kemampuannya bertahan di tengah siraman hujan dan kabut. Alhasil, temuan yang spektakuler ini cukup efektif digunakan untuk iklan dan reklame. Hasil temuannya ini, ia publikasikan di Paris pada 1910. Atas bantuan kawannya, ia memperkenalkan lampu buatannya itu ke Amerika. Agar temuannya tidak ditiru orang. Claude mematenkan lampu neon di Amerika Serikat. Semenjak itu ia mulai dikenal sebagai seorang jenius yang berhasil menemukan lampu neon yang merupakan pelopor lampu pijar untuk keperluan periklanan

Pada 1915, untuk pertama kalinya lampu neon dijual kepada khalayak umum. Seorang Pengusaha Earle C. Anthony, membeli lampu neon seharga U$24 ribu. Lampu itu, ia gunakan  untuk menerangi papan reklame perusahaan penjualan mobil miliknya di Los Angeles. Pertama kali lampu neon Claude hanya berwarna biru dan merah. Bisa dikatakan sejak saat itu hingga kini lampu bikinan Claude kerap dipakai untuk menerangi papan reklame seperti kasino, hotel, swalayan, maupun lampu lalu lintas dan keperluan lainnya.

Claude lalu mengembangkan teknologi neon buatannya itu. Ia menemukan elektroda-elektroda nonreaktif yang cukup untuk menangani gempuran ion tanpa membuatnya panas. Temuan itu membuka cakrawala bagi perawatan tabung-tabung neon sehingga menjadi awet digunakan.

Di puncak karirnya, George Claude sempat membuat pusat listrik tenaga KEPL di Teluk Matanzas dekat Kuba, tahun 1930. Pusat tenaga listrik ini dengan daya 22 KW hanya dapat bekerja selama dua minggu karena dihancurkan oleh angin topan sehingga pipa untuk masukan airnya rusak total. Proyek itu kemudian dihentikan. Lima tahun kemudian, Claude membangun pembangkit lain, kali ini di pantai Brazil. Namun proyek tersebut mengalami nasib yang sama hancur oleh cuaca dan ombak.

Hampir sepenuh masa hidupnya, George Claude dengan penemuannya mengabdi pada dunia.  Ia meninggal  pada  23 Mei 1960, saat berusia 90 tahun. Jasadnya boleh dikuburkan. Namun pemikiran dan penemuannya  tidak habis dimakan zaman.  (Fitriansyah, Almunus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Muat dalam Pikiran Rakyat, Edisi Cakrawala, 5 Juni 2008

 





Elias Howe (1819-1867)

29 05 2008

Dari Mimpi, Terciptalah Mesin Jahit

Penemuan mesin jahit oleh Elias Howe warga Amerika Serikat, membawa banyak manfaat bagi manusia yang hidup di dunia ini. Mesin yang diciptakan pada 1844 mampu menghasilkan penutup aurat bagi kaum Adam dan Hawa hingga sekarang. Uniknya, mesin ini diciptakan Howe melalui mimpi di siang bolong.

Elias Howe lahir di Spencer, Massachusetts, Amerika Serikat, pada 9 Juli 1819. Masa kecil Howe banyak dihabiskan untuk membantu ayahnya bertani. Meskipun fisiknya lemah dan sering jatuh sakit, minatnya untuk belajar sangat kuat, terutama pada mesin. Sehingga, ia pun tidak berminat untuk mengembangkan intelektualnya di bangku sekolah.

Howe yang tak tamat sekolah, diterima kerja di pabrik tekstil lokal sebagai magang ahli mesin saat berusia 16 tahun. Kesempatan ini, ia pergunakan untuk mengembangkan minat dan bakatnya tersebut. Untuk memperluas keahliannya dalam mesin, ia pun mencoba peruntungannya untuk bekerja di sebuah pabrik mesin kapas di Lowell, Massachusetts.

Kemudian, ia pun berpindah lagi ke pabrik arloji yang ada di Boston dan pabrik instrumen ilmiah yang ada di Cambridge. Saat di Cambridge, Howe mendengar istilah mesin jahit dari majikannya Ari Davis, pemilik perusahaan pembuat instrumen ketelitian di Boston.

Pada 1840, Howe menikah dan memiliki anak. Ia sering sakit sehingga istrinya harus menjahit pakaian untuk membayar kebutuhan hidup. Saat mengamati istrinya sedang menjahit, Howe berpikir tentang alat yang dapat meniru gerakan tangan dan lengan saat menjahit. Alat itu harus menerapkan proses yang memakai benang dari dua sumber berbeda. Saking seriusnya berpikir, ciptaannya itu sampai terbawa mimpi. Dalam mimpinya itu, perutnya ditusuk oleh seorang kanibal dengan tombak. Bentuk ujung tombak inilah yang dijadikan inspirasi oleh dia untuk menciptakan jarum yang telah lama ia cari.

Howe kemudian mencoba menyalurkan idenya untuk membuat mesin jahit. Selama lima tahun ia bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Namun usahanya ini gagal. Mesin jahit pertamanya tidak sesuai berjalan dengan baik. Sebab, ia membuatnya menirukan gerak tangan manusia yang sedang menjahit, yakni lubang jarum terletak di pangkal jarum. Sayang, saat mulai membuat alatnya, bengkelnya terbakar menghanguskan pekerjaan senilai 300 dolar AS. Bencana itu tidak membuatnya frustrasi.

Barulah pada 1844, Howe membuat mesin jahit keduanya. Kali ini ia berhasil menciptakan lubang jarum terletak di ujung jarum seperti mesin jahit yang ada sekarang ini. Sebagian besar literatur menyebutkan, mesin jahit karya Howe mampu menjahit 250 setik (jengkal) per menitnya. Howe pun kemudian menguji coba mesin jahit karyanya dengan bertanding dengan lima gadis yang menjahit dengan tangan.

Menjual hak paten

Meskipun mesin jahit Howe bekerja lebih cepat dan lebih rapi. Tetapi, ketika itu, tidak ada satu pun orang Amerika yang mau membeli mesin jahitnya. Hal itu dikarenakan mesin jahitnya masih terlihat sangat rumit dan dampaknya akan menimbulkan banyak pengangguran. Setelah berhasil mematenkan temuannya pada 1846, ia mempromosikan ciptaannya di negara Inggris. Kemudian, ia menjual patennya kepada seorang warga Inggris, William Thomas pada 1847 seharga 250 poundsterling.

Dalam tekanan dan kegelisahan, ia terpaksa menerima kontrak kerja tidak adil. Ia bekerja pada William Thomas dengan gaji yang cukup rendah yaitu 5 poundsterling seminggunya. Howe pun disuruh memperbaiki mesin jahitnya hingga mampu menjahit korset, kulit, dan sejenisnya. Tetapi, William Thomas curang. Hingga Howe jatuh sakit dan akhirnya dia menabung untuk kembali ke Amerika Serikat. Tak lama setelah kembali ke Boston, istrinya yang setia wafat.

Penderitaan makin bertambah ketika banyak pengusaha yang mencuri ide mesin jahit miliknya dan menjual dengan bebas. Begitu juga dengan pengusaha Isaac M. Singer. Hingga akhirnya dia berjuang keras atas hak patennya. Howe menuntut Singer dan memenangkan hak patennya pada 1854. Selama lima tahun (1849-1854) dia pergi ke pengadilan untuk merebut hak patennya.

Usahanya berhasil dengan gemilang. Ketika hak patennya berakhir pada 1867, ia mendapatkan royalti dari tiap mesin jahit yang terjual di Amerika Serikat. Dan, ia pun menjadi seorang jutawan yang membuat pabrik mesin jahit bernama Howe Machine Company di Bridgeport, Connecticut. Singer terpaksa mengembalikan 15 ribu dolar AS royaltinya. Sejak 1856, Howe menetapkan royalti 5 dolar AS untuk setiap satu mesin jahit yang dibuat di AS dan satu dolar untuk di luar AS menjadikannya seorang jutawan.

Sebelum tutup usia, saat di Amerika terjadi pecah perang saudara, Howe sempat menjadi prajurit dan membentuk pasukan infanteri. Semua peralatan dan pakaian pasukan itu dijahit dengan mesin hasil temuannya. Elias Howe pun meninggal di Brooklyn, New York, pada 3 Oktober 1867 dalam usia 48 tahun. Berkat penemuannya yang brilian, mesin jahitnya bisa menghasilkan penutup aurat sesuai dengan keinginan si pemakainya. (Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)***

Muat Dalam Pikiran Rakyat, Edisi Cakrawala, Kamis 29 Mei 2008





Potret Sejarah Dalam Novel

22 05 2008

Belakangan ini, peminat novel di Indonesia dimanjakan oleh novel bertemakan sejarah. Antara lain, novel tentang sejarah kehidupan kongsi dagang zaman Hindia Belanda, VOC, berjudul Rahasia Meede; Misteri Harta Karun VOC, yang ditulis E.S. Ito. Kisah novel serial Gajah Mada oleh Langit Kresna Hariadi (LKH) misalkan, menyerbu pasar dengan lima jilid serial Gajah Mada sejak 2005 hingga kini. Ada pula kisah Pangeran Dipenogoro ke dalam sebuah novel yang ditulis Remy Saldo.

Karya novel sejarah pertama kali dikenalkan Sir Walter Scott yang menulis novel Waverley yang olehwww.ruangbaca.com sebagian besar literatur sebagai novel sejarah pertama di dunia. Walter menganggap sejarah sering terasa palsu sehingga dalam novelnya mengambil sepenuhnya karakter Alasdair Ranaldson MacDonell (1771-1828), seorang prajurit yang hampir tak tercatat dalam sejarah panjang klan Skotlandia, sebagai salah seorang tokoh bernama Fergus Mac-Ivor. Sejak itu, orang menulis tokoh yang nyata, tempat yang benar-benar ada ke dalam novel.

Sukses ini kemudian diadaptasi oleh penulis yang merekonstruksi realitas ke dalam fiksi, seperti Victor Hugo, Alexander Dumas, dan Charles Dickens. Mereka menganggap novel sastra mampu menjadi media rekaman sekaligus rujukan literatur yang patut diperhitungkan dalam upaya penelisikan sejarah umat manusia. Bahkan, sastrawan yang banyak menulis cerita pendek dan novel–tentang kehidupan masyarakat Indonesia dengan setting peristiwa di masa revolusi Pramoedya Ananta Toer (Pram) memerlukan data sejarah sebagai referensi agar cerita di dalam novelnya menjadi cerita yang memiliki makna, dan memberikan pengalaman kepada pembacanya sehingga menimbulkan kesadaran kebangsaan pada mereka.

Tetralogi Bumi Manusia dan novel lainnya yang ditulis di Pulau Buru, merupakan karya gemilang Pram yang bisa dilacak tokoh dan latarnya. Data sejarah, karena itu, bukan sekadar angka mati. Pram memasukkan tokoh yang sarat konflik psikologi ke dalamnya. Ia menginvestigasi jiwa manusia hingga tindakannya terasa wajar dan logis dengan sebisa mungkin setia kepada data. Fakta sejarah, dalam novel semacam ini, bertukar tangkap dengan tafsir.

Dengan mengail semangat dari pesan Gorki bahwa “rakyat harus tahu sejarah”, Pram selalu mewakili pemikiran dan perasaan masyarakat di dalam lingkungan sistem sosial masa revolusi kemerdekaan. Dengan demikian, Pram berusaha memberikan makna terhadap fenomena sejarah, dengan menjadikan novelnya suatu karya yang memaknakan fenomena sejarah tersebut.

Adapun novel sejarah yang mengundang kontroversi adalah novel The Da Vinci Code, karya Dan Brown. Bahkan, Brown mengklaim The Da Vinci Code sebagai novel yang ditulis akurat berdasarkan riset sejarah. Brown menjamin berbagai fakta sejarah seputar Jesus, Mary Magdalena, Opus Dei, The Priori of Sion, yang dipaparkan dalam novelnya adalah 100 persen benar. Atas karyanya ini banyak yang mengecam karena dianggap melecehkan Yesus, Vatikan, juga karya Leonardo Da Vinci. Selama 100 pekan, Da Vinci Code terus menduduki peringkat atas novel terlaris, dan memicu kontroversi hebat.

Sampai 2005, The Da Vinci Code sudah diterbitkan dalam 44 bahasa. Film layar lebarnya pun sedang diputar di bioskop di seluruh dunia, dengan Tom Hanks berperan sebagai Robert Langdon, tokoh jagoan dalam novelnya. Konon pada tahun pertama, novel The Da Vinci Code laku 6,5 juta eksemplar (di Amerika Serikat saja), dan melonjak menjadi lebih dari 10 juta eksemplar di pengujung tahun kedua.

Dari semua novel sejarah yang paling kompleks adalah novel yang ditulis Umberto Eco atau Jorge Luis Borges. Batas antara fakta dan fiksi dalam cerita yang ditulis dua orang ini begitu tipis. Membaca Borges kita harus siap dengan data di belakang cerita. Bagi orang yang tak siap, fiksi dalam cerita Borges bisa dianggap sebagai fakta dan sebaliknya. Karya Umberto Eco, berjudul Baudolino ditulis dengan semangat komikal yang kental. Novel ini mengangkat pahlawan Alessandria, Baudolino, yang memasuki Konstantinopel pada 1204 dan bingung menghadapi kota yang diluluhlantakkan oleh kesatria Perang Salib.

Dia bertemu sejarawan Niketas Coniateas dan menyelamatkan nyawanya. Niketas kagum pada kemampuan berbahasa Baudolino. Baudolino lantas mendongengkan kisah hidupnya kepada Niketas. Niketas sendiri adalah tokoh nyata yang terkenal dengan bukunya berjudul The Sack of Constantinople.

Keterkaitan antara sastra dan sejarah adalah keterkaitan intertekstual di antara berbagai teks (fiksi maupun faktual) yang diproduksi pada zaman yang sama dan berbeda. Berbagai novel sejarah yang dibuat sudah semestinya dapat merekam peristiwa sejarah dengan cara kreatif, menggunakan daya imajinasi dan dibangunkan oleh struktur cerita dengan tujuan menimbulkan kesan realitas dalam novel. Meski sastra sejarah oleh beberapa kalangan dianggap sebagai sebuah karya imajiner, tidak lantas kita meragukan kadar kebenaran atau validitas sejarahnya. (Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung dan peminat novel)***

Muat Dalam Pikiran Rakyat, Suplemen Kampus, Kamis 22 Mei 2008





Dr. Richard Jordan Gatling (1818 -1903)

22 05 2008

Dokter Gigi Penemu Gatling Gun

Dalam dunia militer, senapan mesin Gatling Gun dianggap sebagai pelopor senapan mesin pertama di dunia. Keganasan senjata pembunuh ini telah teruji pada saat perang saudara Amerika pada abad ke-18. Uniknya, orang yang menciptakan senjata mematikan ini bukan dari kalangan ilmuwan atau saintis, tetapi seorang dokter gigi yang bernama Richard Jordan Gatling.

Richard lahir 12 September 1818 di Hertford County, sebelah utara Carolina, AS. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani dan inovator. Selain ahli di bidang pertanian, ayahnya juga termasuk orang yang kreatif dalam bidang penemuan.

Dalam kehidupannya, Richard termasuk orang yang beruntung pada masa itu. Orang tuanya memiliki status ekonomi yang cukup mapan dan menikmati pendidikan intelektual di bangku sekolah. Bahkan sebelum lulus kuliah, ia berhasil menciptakan sekrup untuk baling-baling yang digunakan untuk kapal uap.

Pada 1850, ia berhasil mendapatkan titel setelah lulus dari universitas kedokteran Ohio, sebagai dokter gigi. Meski demikian, ia tidak tertarik untuk mengamalkan ilmunya. Minat di bidang penemuan begitu kuat sehingga memotivasinya untuk terus menciptakan penemuan baru. Tekad yang kuat itu berbuah manis. Dari tangan kreatifnya pun banyak menghasilkan penemuan yang lebih kepada kepentingan publik. Salah satunya alat pembersih bulu domba menggunakan uap.

Menciptakan Gatling Gun

Pada tahun 1861, perang sipil di Amerika Serikat pecah. Perang saudara ini melibatkan sekelompok warga dari negara bagian yang ingin memisahkan diri dari negara AS. Perang yang menimbulkan banyak korban menarik perhatian Richard untuk menciptakan sesuatu. Ia begitu prihatin setiap harinya para prajurit berangkat ke garis depan peperangan hanya untuk kemudian kembali dengan kondisi cacat, sakit, atau mati.

Lalu, Richard berinisiatif untuk menciptakan suatu benda yang dapat “meringankan” penderitaan perang atau bahkan mengakhiri perang itu sendiri. Richard berpikir bahwa banyaknya prajurit yang terluka atau mati di medan perang dapat dikurangi jika ia berhasil membuat suatu “alat pembunuh” yang lebih efektif.

Ia kemudian menggambarkan hasil rancangannya, namun hasil rancangannya ini baru ia patenkan pada 9 Mei 1865. Setelah melakukan beberapa kali percobaan, pada 1861, ia berhasil menciptakan senjata yang diberi nama Gatling Gun yang berarti senjata mesin berat yang memiliki beberapa barel berputar dan diputar oleh putaran tangan. Bentuk dan ukurannya hampir sebesar meriam kanon dan biasanya menggunakan roda untuk memudahkan pengangkutan senjata ini. Senjata ini dapat menembakkan 200 peluru per menit.

Senjata tersebut harus dapat dioperasikan oleh beberapa orang saja, namun efektivitasnya sama dengan ratusan prajurit dengan senjata biasa. Ia berharap pada akhirnya jumlah prajurit yang maju ke medan perang dapat dikurangi. Dengan senjata barunya yang dahsyat itu, Richard juga berharap agar berbagai pihak yang bertikai menjadi sadar akan buasnya peperangan sehingga terdorong untuk mengambil jalan perdamaian.

Untuk menjual senjata secara resmi, pada 1862, ia mendirikan perusahaan The Gatling Gun di Indianapolis, Indiana. Meskipun demikian, usahanya ini tidak menarik minat pemerintah AS. Bahkan, pemerintah AS secara tegas menolak untuk membeli senjata ini. Sebab, senjata yang bisa membunuh banyak orang tidak praktis dalam hal mekanisme penembakan disebabkan tidak memiliki pelatuk. Selain itu, senjata buatan Richard terlalu berat untuk disiapkan secara cepat dalam medan tempur. Bahkan dengan peningkatan rancangan, senapan Gatling tetap tidak memiliki pelatuk dan memiliki berat 41 kg.

Meskipun begitu, seorang jendral Unionis Benjamin Butler tertarik untuk menggunakan senjata mesin. Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk membeli dua belas dan menggunakannya dalam Pengepungan Petersburg. Pada saat debut senapan ini, para prajurit dari kedua belah pihak terkejut oleh kekuatan dan daya rusak senjata ini. Senjata ini kemudian digunakan secara terbatas oleh Angkatan Bersenjata Unionis pada saat akhir perang.

Kian canggih

Karya Richard ini melampaui zamannya. Senjata model Gatling Gun yang didesain pertama kali tahun 1861 semakin canggih. Pada pertengahan abad ke-20, senjata mesin mini model Gatling yang lebih canggih yang dipakai tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam. Kemudian senjata Gatling Gun diadaptasi oleh helikopter jenis UH-1 Huey.

Senjata ini mencapai kematangan sebagai sistem persenjataan semasa peperangan di Vietnam. Gatling Gun memberikan kadar tembakan melebihi 6.000 tembakan peluru per menit (rounds per minute). Istilah senapan Gatling masih sering digunakan sekarang ini untuk menunjuk kepada meriam dengan barel berputar seperti meriam auto M61 Vulcan 20 mm.

Pada tanggal 26 Februari 1903, Dr. Richard Jordan Gatling meninggal di rumah adik perempuannya. Ia meninggal karena usianya yang sudah tua. Di sebagian besar literatur, senjata yang dirancang Richard ini merupakan salah satu senjata mengerikan yang ditakuti pada masanya.***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.





Bette Nesmith Graham (1922-1980)

15 05 2008

“Liquid Paper”, Sang Penakluk Tinta

Sebelum komputer digital dibuat manusia, dalam menyelesaikan urusan pekerjaan laporan orang menggunakan mesin tik. Namun, alat ini memiliki kelemahan, tidak bisa menghapus kesalahan pengetikan. Bayangkan, semenjak mesin tik ditemukan 1714, oleh Henry Mill di Inggris dan dikembangkan Thomas Alva Edison menjadi mesin tik elektrik, belum ada yang memikirkan untuk menciptakan suatu alat yang bisa menghapus kesalahan dalam pengetikan.

Pada tahun 1951, keluhan para pekerja di balik meja, baru bisa terjawab. Seorang juru ketik asal Amerika, Bette Nesmith Graham menemukan solusi untuk menutupi kesalahan dalam pengetikan dengan sebuah cairan bernama liquid paper atau yang kita kenal dengan Tipp-Ex.

Bette Nesmith Graham lahir 23 Maret 1924, di sudut kota Dallas, Texas, AS. Ia dibesarkan di kota kelahirannya oleh kedua orang tuanya, Jesse dan Christine McMurry. Sebagaimana lazimnya pendidikan sangat penting dalam kehidupan, Bette malah tidak menyukai pendidikan di bangku sekolah. Bahkan, ia harus dikeluarkan dari sekolah tingkat atas pada umur 17. Namun, minatnya untuk bekerja sangat kuat. Dengan tekun, ia melamar ke beberapa perusahaan yang ingin menampungnya untuk bekerja sebagai sekretaris.

Nasibnya cukup beruntung, lamarannya diterima di sebuah perusahaan yang membutuhkan orang yang berjiwa muda dan energik. Kemudian, oleh dukungan perusahaan tempatnya bekerja, Bette Graham bisa melanjutkan sekolahnya yang tertunda. Ia kemudian melanjutkan karier intelektualnya di sekolah sekretaris. Tidak lama kemudian, Pada 1943, ia menikah muda saat berusia 19 tahun dengan Warren Nesmith, salah seorang tentara Amerika yang turut serta dalam Perang Dunia II. Pernikahannya ini tidak berlangsung lama, ia bercerai dengan suaminya.

Di bawah tekanan dan kegelisahan, Bette Graham harus menghidupi satu orang anak laki-lakinya. Nasib baik hinggap di kehidupannya. Ia diangkat menjadi sekretaris eksekutif di Texas Bank & Trust di Dallas. Pekerjaan yang memerlukan kecepatan dan ketelitian membuatnya sering melakukan kesalahan dalam pengetikan pada mesin ketik elektrik. Kesalahannya ini juga terjadi pada rekan kerjanya di kantor.

Menemukan “liquid paper”

Suatu hari, Bette Graham melihat pelukis yang menumpuk warna sebuah gambar dengan cat lain. Kemudian, ia terinpirasi untuk menciptakan sesuatu yang bisa menutupi kesalahan dalam pengetikan di kertas. Sebagian literatur menyebutkan, Bette Graham meracik liquid paper dengan memblender cat tempura yang disesuaikan dengan warna kertas dan dimasukkan ke dalam botol-botol kecil agar mudah dibawa ke mana-mana. Cairan tersebut dioleskan di atas tempat kesalahan tik. Untuk mengoleskan cat ramuannya, ia menggunakan kuas kecil.

Sebelum dikomersilkan oleh penciptanya, cairan ini dikenal dengan nama Mistake Out. Karya sederhana Bette Graham cukup membantu dalam menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk setiap hari. Ide briliannya ini banyak diminati oleh pekerja kantor dan sekretaris. Untuk menghasilkan uang atas temuannya ini, ia mulai belajar metode promosi dan pemasaran. Tanpa lelah, Bette terus melakukan penelitian hingga cairan korektor yang dibuatnya semakin sempurna.

Setelah beberapa tahun menyempurnakan temuannya, Bette Graham mulai berani menawarkan Mistake Out kepada perusahaan IBM yang saat itu merajai bisnis peralatan kantor. Namun, usahanya ini gagal. IBM menolak dengan alasan Mistake Out tidak memiliki nilai jual. Namun, hal itu tidak melemahkan semangat Bette Graham. Ia kemudian mendirikan usaha Mistake Out Company di rumahnya. Belum lama usahanya berdiri, Bette Graham mendapatkan cobaan yang berat. Ia dipecat dari pekerjaannya karena sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Nasib buruk ini, ia manfaatkan untuk memasarkan produk buatannya itu.

Dengan modal seadanya, Bette Graham mempromosikan dan memasarkan cairan penutup kesalahan ketikan. Bahkan untuk meningkatkan nilai jual, Bette Graham mengganti nama Mistake Out menjadi Liquid Paper dan tetap memproduksi serta menjual produk itu dari dapur dan garasinya hingga 17 tahun berikutnya. Order terbesar pertamanya terjadi pada tahun 1962. Seorang pedagang asal San Antonio memesan banyak produknya.

Pada tahun 1967, perusahaannya itu menjadi perusahaan besar dan berhasil memasok produknya ke 31 negara. Bahkan, perusahaan yang kemudian diberi nama Liquid Paper itu pada tahun 1976 sudah mampu menghasilkan keuntungan bersih lebih dari 1,5 juta dolar AS. Tahun 1979, Gillette Corp. membeli seluruh perusahaan Bette dan paten Liquid Paper senilai 47,5 juta dolar AS dan royalti dalam setiap penjualan botolnya.

Bette Nesmith Graham meninggal pada 1980 saat berusia 56 tahun. Ia dimakamkan di tempat kelahirannya di Dallas, Texas. Meskipun Liquid Paper sudah jarang dipergunakan, namun karya sederhana Bette Graham tetap dikenang hingga sekarang.***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung





Humanisme Ala Dostoyevsky

17 04 2008

Cerpen dan karya sastra besar dunia lahir dan menjadi cerminan problematika masyarakat. Fyodor Dostoyevsky, salah satu dari sekian sastrawan Rusia, “menyerahkan” karyanya kepada masyarakat. Ia berpendapat, karya itu adalah cerminan masyarakatnya. Oleh karena itu, karyanya pun selalu memotret persoalan sosial masyarakat Rusia dalam tirani berkepanjangan.

Dostoyevsky, seorang pengarang mitos, telah menciptakan sebuah karya penting dan boleh dikatakan mengandung daya hipnotis. Kadang-kadang, ia disebut sebagai pendiri eksistensialisme, terutama dalam Catatan-catatan dari Bawah Tanah, yang digambarkan oleh Walter Kaufmann sebagai “karya terbaik untuk eksistensialisme yang pernah ditulis”. Bahkan, eksistensialis yang paling kesepian yaitu Nietzsche menyatakan kekagumannya terhadap tulisan Dostoyevsky.

Dostoyevsky, yang lahir di Moskow, 30 Oktober 1821, sebelum memilih menjadi penulis, sempat berkarier sebagai ahli mesin untuk militer dengan pangkat letnan dua. Dia bertahan selama empat tahun sebagai tentara yang dijalaninya dengan hidup penuh foya-foya sehingga selalu dililit utang. Pengalaman buruk ini ia ceritakan dalam novelnya Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman).

Setelah meninggalkan karier militer 1846, ia mulai menulis novel pertama Poor Folk (Orang-orang Miskin) yang serta merta mendapat sanjungan para pembacanya. Novel ini menobatkannya sebagai bakat besar dalam kesusastraan Rusia. Sukses literer ini dilanjutkan dengan menulis cerpen dan dua novel pendek, Si Kembar (1846) dan Tuan Tanah Wanita (1847). Karyanya yang lain adalah Pencuri Baik Hati (1848) dan Nyetochke Nyezvanova yang berbentuk catatan harian seorang gadis.

Dostoyevsky dikirim ke kamp kerja paksa di Siberia selama empat tahun karena keterlibatannya dalam kegiatan revolusioner. Setelah dibebaskan, ia menulis The House of Dead berdasarkan pengalamannya dalam kamp yang kejam itu. Novel ini menandai munculnya tradisi sastra penjara di Rusia. Di penjara itu juga, Dostoyevsky sempat mengalami serangan epilepsi pertamanya, sebuah kondisi yang selanjutnya akan selalu ia bawa sepanjang hidupnya.

Tahun 1860, Dostoyevsky bersama saudara lelakinya Mikhail mengedit dua jurnal penting. Salah satunya berjudul Notes from the Underground (Catatan dari Bawah Tanah) yang menyatakan keberjarakannya pada para kaum utopis radikal (sosialis dan komunis) yang ingin mengakhiri perbudakan dan korupsi dalam pemerintahan Tsar untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik.

Dalam jurnal ini, Dostoyevsky mengkritik kegemaran manusia pada sistem dan deduksi abstrak. Kegemaran itu begitu kuat pada diri manusia Rusia masa itu sehingga manusia siap mengubah kebenaran ataupun mengingkari bukti yang masuk akal hanya untuk membenarkan logikanya. Bahkan, Dostoyevsky takut bahwa projek pembangunan ekonomi Barat tidak hanya menindas kebebasan atas nama akal dan kemajuan, tetapi juga mengakhiri sejarah keberadaan manusia.

Hampir di setiap tulisannya Dostoyevsky menunjukkan suatu pergeseran baru yang bersifat emansipatoris. Dostoyevsky menggeserkan manusia ke tataran yang konkret dan realistis dengan segenap kecenderungan yang dikandungnya dalam suatu makna yang sama sekali baru. Makna baru tersebut selanjutnya dipertautkan dengan struktur dasar makna primordial hakiki manusia. Dostoyevsky sendiri selalu menyusun cerita dalam struktur yang kokoh, dengan unsur bagiannya yang dijalin dalam ketegangan yang terjaga dan penuh kejutan. Begitu pula tokoh-tokoh yang diciptakannya menjelma menjadi figur yang spesifik dan unik.

Di luar kesuksesannya sebagai penulis, Dostoyevsky menjadi seorang pecandu judi. Ia kehilangan semua uangnya, bahkan teman-temannya memberinya utang. Untuk melunasi utang pada kreditornya, ia menandatangani kontrak tidak adil dengan penerbit yang curang yang ingin memanfaatkan situasi dan sikapnya yang tidak disiplin. Dostoyevsky harus menyelesaikan sebuah novel dalam tenggat waktu tertentu. Jika gagal, penerbit itu berhak mendapatkan semua hak atas karya Dostoyevsky yang telah diterbitkan.

Dalam tekanan dan kegelisahan, Dostoyevsky menulis Crime and Punishment dan The Gambler secara bersamaan di tahun 1866. Teman-temannya menyarankan Dostoyevsky untuk menyewa stenografer, Anna Grigorievna Snitkin, yang kemudian dinikahinya. Karya ini menerima penghargaan publik, karya pertama dari lima karya besar yang ditulis oleh penganut Rusia ortodoks ini dalam 15 tahun terakhir hidupnya.

Karya Dostoyevsky banyak memengaruhi karya kesenian dunia. Misalnya, 28 September 2007, sebuah adaptasi untuk pertunjukan panggung dipentaskan untuk pertama kali di Phoenix Theater, San Francisco, Amerika Serikat. Adaptasi ini dikerjakan oleh Oleg Lipstin. Bahkan, novel ini juga mengilhami Paul Schrader saat menulis skenario untuk film “Taxi Driver”. Film yang dibintangi Robert De Niro dan Jodie Foster, serta disutradarai Martin Scorcese ini bertema eksistensialisme. Selain itu, cerpen The Gambler pernah beberapa kali difilmkan atau menjadi miniseri di televisi, antara lain, 1971 (oleh Michael Ferguson) dan tahun 1997 Rob Reiner, sutradara film “A Few Good Men” dan “When Harry Met Sally”.

Fyodor Dostoyevsky meninggal 28 Januari 1881 karena pendarahan paru-paru yang disebabkan oleh serangan epilepsi. Ia dimakamkan di Pemakaman Tikhvin di Biara Alexander Nevsky, St. Petersburg, Rusia. (Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung dan peminat novel)***

Muat dalam Pikiran Rakyat, Suplemen Kampus, 17 April 2008





Henry Nestle (1814-1890)

17 04 2008

Pencipta Makanan Bayi

Berawal dari keprihatinan akan tingginya angka kematian bayi di akhir abad ke-19 di Swiss, seorang ahli kimia Henry Nestle membuat makanan tambahan berupa nustrisi instan. Dengan makanan tambahan ini, hasilnya banyak bayi yang terselamatkan dan tingkat kematian bayi menurun tajam.

Henry Nestle, lahir 10 Agustus 1814 di Kota Frankfurt, Jerman. Ia adalah anak ke-11 dari 14 orang anak. Ayahnya adalah Johann Ulrich Matthias Nestle, seorang pengusaha kaca di Töngesgasse dan ibunya bernama Anna-Maria Catharina Ehemann. Sebelum Henry mencapai usia 20 tahun pada 1836, ia telah menyelesaikan masa magangnya selama empat tahun dengan J. E. Stein, seorang pemilik perusahaan farmasi. Pada akhir 1839, ia resmi diberikan hak untuk melakukan percobaan-percobaan kimia, membuat obat-obatan berdasarkan resep, dan menjual obat. Pada masa ini, ia mengganti namanya menjadi Henry Nestle agar lebih cocok dengan kondisi sosialnya yang baru di Vevey, Swiss.

Pada 1843, Henry membeli salah satu industri di wilayah Swiss yang memproduksi rapeseed (biji-bjian). Ia juga terlibat dalam produksi minyak kacang yang digunakan sebagai bahan bakar lampu minyak, minuman keras, rum, absinth, dan cuka. Ia juga mulai memproduksi dan menjual air mineral bergas dan limun meskipun pada tahun-tahun krisis dari 1845 hingga 1847 Henry menghentikan produksi air mineralnya. Pada 1857 ia mulai berkonsentrasi pada penyalaan lampu gas dan pupuk. Di saat itulah ia bertemu dengan Anna Clementine Therese Ehemant, kemudian menikah pada 23 Mei 1860 di Frankfurt.

Pada masa krisis ekonomi berkepanjangan, sulit bagi rakyat di negaranya untuk mencari makanan untuk bayi. Di masa krisis itu banyak bayi yang meninggal sebab pada saat itu banyak bayi di Eropa yang tidak bisa meminum air susu ibu. Dengan menggunakan keahliannya sebagai ahli farmasi, Henry berusaha untuk menemukan solusi terbaik bagi makanan bayi yang mudah dibuat dan bergizi.

Setelah berusaha, akhirnya Henry berhasil menemukan ramuan yang paling tepat untuk makanan bayi. Ramuan itu dalam prosesnya dengan mencampur susu Swiss yang berkhasiat tinggi dengan sereal yang dimasak secara khusus. Ketika makanan ciptaannya itu diberikan pada seorang bayi laki-laki yang lahir prematur, ternyata bayi itu bisa bertahan hidup. Reputasi makanan temuan Henry segera meroket. Henry melalui usahanya yang diberi nama Nestle itu kini memproduksi aneka makanan, dari susu, sereal, hingga bubur bayi. Dengan temuannya ini, banyak bayi yang terselamatkan dan tingkat kematian bayi menurun tajam.

Temuannya ini kemudian dikembangkan menjadi bisnis yang berhasil dan mendunia. Tahun 1867, ketika orang-orang hanya berpikir tentang susu cair, Henry menciptakan ide baru untuk membuat susu bubuk. Setahun kemudian, Henry mendirikan perusahaan Farine Lactee Henry Nestle. Makanan bayi produksi Nestle ini merambah dengan cepat keseluruh penjuru Eropa dan permintaan pasar pun meningkat. Setelah itu Nestle menawarkan produk lain berupa susu bubuk yg sekarang dipasarkan hampir di setengah bagian dunia, dengan lebih dari 500 pabrik di 70 negara.

Penghasilan terbesar Nestle berasal dari produk minumannya. Setelah itu produk bumbu instannya, susu, dan produk jajanan berupa cokelat, dan permen. Perusahaan ini adalah yang terbesar di Swiss dan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri bahan makanan terbesar di dunia. Selain menemukan makanan bayi dan susu bubuk, pada 1875 Henry berhasil menciptakan ramuan baru susu rasa coklat. Dalam ramuan itu, gula dan susu ditambahkan pada kokoa padat untuk menghasilkan susu coklat. Proses ini bertujuan mengurangi partikel hingga berukuran mikron, sehingga cokelat menjadi halus dan lembut di lidah. Rasa inilah yang dimiliki oleh cokelat berkualitas.

Meski demikian, Henry percaya bahwa menyusui adalah hal terbaik bagi bayi. Ia menyatakan, hal ini pada tahun 1867 dan hinggi kini pernyataan itu masih dipegang teguh oleh perusahaan Nestle. Susu formula ciptaan Henry Nestle didesain untuk menyelamatkan hidup bayi karena pada saat itu tingkat kematian bayi sangat tinggi di Swiss. Berangkat dari nilai ini, Nestle tidak pernah mengganti nama mereknya karena nama Nestle bukan sekadar nama, istilah, tanda, atau simbol. Lebih dari itu, Nestle merupakan sebuah “janji” perusahaan untuk secara konsisten memberikan kualitas yang terbaik bagi konsumen. Sehingga dalam praktik pemasaran yang spesifik menangani produk, Nestle selalu memberikan harapan bagi konsumen dengan adanya jaminan standar kualitas merek Nestle, konsumen akan terus membeli produk dari lini produk Nestle makanan bayi, susu formula, kopi, sereal, hingga makanan binatang dan kosmetika.

Pada 7 Juli 1890, Henry Nestle-Ehmant, pendiri perusahaan multinasional Nestle meninggal dalam usia 76 tahun karena serangan jantung. Kini, ia dikenang sebagai raja bisnis dalam industri makanan bayi dan makanan kering.***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Bandung.

Muat Dalam Pikiran Rakyat, Edisi Cakrawala Kamis 17 April 2008





King C. Gillette (1855 – 1932)

10 04 2008

Sang Utopis Penemu Silet

Ketidakpuasan ternyata bisa menimbulkan ide brilian untuk menciptakan sebuah penemuan yang berguna bagi aktivitas manusia. King Camp Gillette, seorang wiraniaga dari Baltimore Seal Company, Amerika Serikat, yang mempunyai ide membuat pisau cukur sekali pakai ini, berawal dari ketidakpuasan. Berkat penemuannya ini kaum Adam tidak perlu ambil pusing mengatasi masalah bulu yang tumbuh secara “liar” di sekitar tubuh kita.

King Camp Gillette, lahir 5 Januari 1855 di sebuah kota kecil Fond du Lac, Wisconsin, Amerika Serikat. Semasa hidupnya, ia dibesarkan oleh keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah seorang ahli di bidang penemuan, sedangkan ibunya ahli di bidang masakan. Saat King berusia empat tahun, keluarganya hijrah ke Chicago, Illinois, tempat ayahnya memulai bisnis baru.

Sayang, di tahun 1871 bisnis ayahnya hancur total akibat kebakaran besar yang juga menghancurkan sebagian kota Chicago. Untuk menghilangkan trauma atas bencana itu, King dan keluarganya pindah ke New York City, mengikuti jejak ayahnya yang beralih profesi menjadi agen hak paten. Meski keluarganya tergolong orang mampu, King tidak berminat untuk melanjutkan sekolah. Minat untuk menjadi inovator begitu kuat. Saat itulah, King mulai terinspirasi untuk menciptakan sesuatu. Saat usianya 18 tahun, King memutuskan bekerja sebagai salesman keliling. Namun, ia tak pernah lupa untuk selalu mencipta di sela kerja.

Dalam kehidupannya, King terinspirasi paham utopis sosialis, cenderung antikapitalis. Pada usia 39 ia sempat menulis The Human Drift, yang menyatakan bahwa kompetisi sebagai akar segala kejahatan. Karya intelektualnya ini termotivasi oleh ibunya yang telah lebih dulu menerbitkan buku resep terkenal, White House Cookbook, buku itu masih terus dicetak ulang hingga 100 tahun kemudian.

Silet pencukur

Suatu hari pada tahun 1895, King merasa kesal karena selalu kerepotan menggunakan pisau cukur untuk merapikan janggutnya. Bahkan King harus mengalami iritasi akibat tumpulnya alat cukur yang ia gunakan. Pada masa itu alat cukur yang ada sebuah pisau cukur besar dan harus diasah setiap kali.

King pun lantas punya ide untuk membuat pisau kecil yang lebih praktis dan bisa segera diganti jika sudah tumpul. Ia lantas mencoba membawa ide itu kepada para teknisi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebuah universitas terkemuka di bidang teknologi. Sayang, hampir enam tahun, ia tak bisa meyakinkan teknisi tersebut untuk membantunya.

Dengan bermodalkan semangat dan pengalaman sebagai seorang salesman, membuat King keukeuh ingin melahirkan inovasi silet pencukur yang mudah, aman, dan praktis. Ia kemudian melakukan sosialisasi dengan menawarkan pisau yang sangat tipis, tajam, murah, dan tidak perlu diasah sehingga tidak merepotkan pemakainya. Perjuangan King akhirnya kesampaian.

Seorang teknisi bernama William Emery Nickerson mendengar doanya dan bersedia membantunya. Berdua, mereka menghabiskan lima tahun untuk menemukan orang yang mampu menyediakan sebuah mesin otomatis pencetak besi tipis yang tajam. Kemudian, mereka pun membuat sebuah usaha yang dinamai American Safety Razor Company. Perusahaan inilah yang menjadi cikal bakal produsen pisau cukur terbesar dunia, Gillette, sesuai dengan nama penemunya.

Pada 1901, King dan William Nickerson, memodifikasi pisau cukur keselamatan dengan menciptakan pisau bermata dua yang dapat diganti dan dibuang setelah dipakai. Pisau cukur berbentuk huruf T yang bagian atasnya dapat diputar untuk memasukkan pisau ini mendapat paten pada tahun yang sama. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai silet pencukur yang praktis hingga saat ini.

Dengan harga yang murah, selama satu tahun pertama pisau cukurnya hanya laku 144 buah. Meskipun demikian, King tidak menyerah begitu saja. Ia mulai memutar otak dengan mengurangi biaya produksi. Untuk langkah promosi ia pun membagi gratis silet pencukur. Cara ini kemudian berhasil. Hingga di tahun 1904, usahanya mulai mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Kepercayaan masyarakat akan produk pisau silet membuat penjualan meningkat tajam. Angka penjualan mencapai angka 90 ribu unit dan 123 ribu pisau silet.

Untuk meningkatkan penjualannya, King membuka kantor perwakilan pertama di luar Amerika yakni di London, Inggris, untuk memasarkan produknya di Eropa. Gillette begitu mendominasi alat cukur seluruh dunia, sehingga di beberapa produk Gillette berarti sebuah pisau cukur. Pabrik yang dibangun oleh King menjadi pemimpin pasar di Eropa dengan 70 persen pangsa pasar dan di Amerika Latin dengan 80 persen pangsa pasar. Konon perusahaan yang dirintisnya sejak 1869, sekarang beromzet sekitar 8,5 miliar dolar AS.

King Camp Gillette meninggal 9 Juli 1932 di Los Angeles California, AS. Jasadnya dikuburkan di pemakaman The Forest Lawn Memorial Park Cemetery di Glendale, California. Hingga saat ini, melalui silet penemuannya, King mampu menggerakkan sebuah revolusi dalam penggunaan industri alat cukur.***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.





Dr. John Gorrie (1803 – 1855)

3 04 2008

wwwmszhhu.jpgTemukan AC Karena Orang Sakit

Peningkatan suhu udara saat musim panas tiba membuat kita akrab dengan keringat. Biasanya di zaman serbamodern ini untuk mendapatkan suasana nyaman dan dingin di rumah atau di ruang kantor sangatlah mudah, cukup dengan menyalakan kipas angin atau juga AC (air conditioner). AC yang dikenal sebagai penyejuk udara ruangan, saat ini sudah menjadi barang yang seolah merupakan kebutuhan pokok bagi kelompok masyarakat tertentu. Terutama bagi mereka yang memang mampu secara ekonomi dan hidup di daerah panas.

Keberadaan mesin pendingin ini memberikan banyak manfaat bagi manusia yang selalu berusaha untuk membuat keadaan di sekelilingnya menjadi lebih baik dan suasana lebih nyaman. Air conditioner (AC) adalah salah satu yang dapat memenuhi kebutuhan itu. Oleh karena itu, berterima kasihlah kepada John Gorrie, seorang dokter berwarga negara Amerika Serikat. Dialah orang yang berjasa menciptakan AC. Uniknya, AC diciptakan Gorrie karena terinspirasi oleh kepeduliannya terhadap orang sakit.

Epidemi malaria

Pada 3 Oktober 1802 John Gorrie lahir di sudut Kota Charleston, California Selatan, AS. Sejak lahir dan tumbuh dewasa, Gorrie tinggal di kota kelahirannya. Pria yang masih memiliki keturunan skotlandia ini menempuh pendidikan kedokteran dan ilmu bedah di New York City dan lulus pada tahun 1833. Setelah lulus, ia harus rela kehilangan ibu yang sangat dicintainya. Setahun kemudian, ia mengembangkan karier kedokterannya dengan membuka praktik di Abbeville, California Selatan. Setelah tiga tahun membuka praktik, pada 1837, Gorrie berkerja sebagai dokter di rumah sakit pelayanan Amerika Serikat.

Pada tahun 1841 penduduk di Apalachicola sebuah kota di negara bagian Florida terkena serangan epidemi malaria dengan gejala demam tinggi. Angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi. Gorrie sebagai dokter berkeinginan untuk ikut terlibat dalam menyelidiki dan menemukan obat penangkal penyakit yang menyerang sebagian besar penduduk Apalachicola.

Pada saat itulah, gagasan untuk membuat mesin pendingin udara muncul karena banyak pasiennya menderita malaria atau penyakit lain dengan gejala demam tinggi. Ruang rumah sakit yang panas membuat mereka tidak nyaman. Gorrie pun memutar otak agar suhu tubuh para pasiennya bisa turun. Oleh karena itu muncullah ide untuk membuat semacam kipas angin yang di depannya dipasang bongkahan-bongkahan es batu sehingga menghasilkan udara dingin.

Tercetusnya ide itu, mendorong John lebih memperdalam gagasan pembuatan mesin pendingin. Setelah konsepnya matang, tahun 1844 ia mulai menggambar sketsa hasil rancangannya dan mengembangkan mesin eksperimen pembuat es. Di sebagian besar literatur, mesin ciptaan Gorrie didasarkan pada hukum fisika bahwa panas selalu mengalir dari gas atau cairan yang lebih panas menuju gas atau cairan yang lebih dingin. Mesin tersebut bekerja dengan cara memadatkan gas (kompres) sehingga menjadi panas, kemudian gas tersebut dialirkan ke koil-koil untuk diturunkan tekanannya (dekompres). Hal itu membuat udara menjadi dingin.

Proses terjadinya pendinginan yang diciptakan oleh mesin pendingin sebenarnya merupakan tiruan terjadinya dingin yang disebabkan oleh alam. Dan dingin sebenarnya merupakan suatu proses penguapan karena adanya panas akan menimbulkan udara dingin di sekitarnya. Dingin terjadi karena adanya penguapan dan penguapan berlangsung karena adanya panas.

Mesin itu terus dikembangkan sehingga dapat menghasilkan gas yang lebih besar dan udara yang lebih dingin. Gas dingin yang berada di koil itulah yang menjadikan udara di sekitar mesin menjadi dingin. Proses kompres dan dekompres gas dalam koil milik Gorrie merupakan metode pendinginan udara yang masih dipakai dalam sistem pendingin sampai saat ini.

Berhenti jadi dokter

Untuk mengembangkan penemuannya, pada tahun 1845, Gorrie memutuskan untuk berhenti praktik sebagai dokter. Enam tahun berikutnya, ia berhasil menerima hak paten yang merupakan hak paten pertama yang dikeluarkan untuk sebuah mesin pendingin. Inilah awalnya ditemukan mesin pendingin yang kini dikenal dengan istilah air conditioner.

Untuk menyosialisasikan temuannya ini, Gorrie harus berjuang sendirian. Ia mendemonstrasikannya ke berbagai kota di Amerika Serikat bagian selatan. Namun sayang, dia gagal memperoleh sokongan dana yang diperlukan untuk membangun pabrik pembuat es komersial. Gorrie tidak menyerah begitu saja. Ia berusaha mengembangkan hasil temuannya dengan modal sendiri.

Dengan susah payah di pertengahan April 1948, Gorrie berhasil membuat mesin pendingin secara utuh, di Cincinnati, Ohio. Kemudian, dalam jumlah yang sedikit mesin pendingin ini diproduksi secara massal oleh pabrik the Cincinnati Iron Works. Meskipun berhasil menciptakan karya brilian, Gorrie tidak pernah menikmati hasil dari temuannya ini. Semua hartanya habis disebabkan untuk modal pembuatan mesin pendingin ini.

John Gorrie meninggal pada tanggal 29 Juni 1855 di Chicago. Ia meninggal dalam kemiskinan. Meski demikian, Gorrie meninggalkan karya besar yang tak lapuk oleh gerak zaman. Untuk mengenang jasanya, dibuatlah sebuah monumen John Gorrie di Apalachicola, Florida.***(Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.)

Dalam pikiran Rakyat, Cakrawala, 4 April 2008