Johan Vaaler (1866-1910)

18 03 2008

_vaaler-johan-wwws9com.jpg
“Paper Clip”, bukan Sekadar Penjepit Kertas

Keberadaan paper clip (penjepit kertas) ternyata bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk menyatukan dua lembar kertas atau lebih. Akan tetapi, penjepit yang terbuat dari kawat yang dibengkokkan itu menjadi simbol perlawanan rakyat Norwegia terhadap pendudukan pasukan Nazi di negara bagian utara Eropa.

Hingga tahun 1899 atau hanya satu tahun sebelum dimasukinya abad ke-20, manusia belum mengenal alat yang tampak sederhana tersebut. Sebelum ditemukan paper clip, orang masih menggunakan karet gelang untuk membundel kertas. Sungguh tak praktis. Barulah kemudian, paper clip ditemukan oleh seorang berkewarganegaraan Norwegia, Johan Vaaler.

Johan Vaaler lahir 15 Maret 1866 di Aurskog, Norwegia. Ayah dan ibunya adalah keluarga petani. Sejak lahir dan tumbuh dewasa, Vaaler tinggal di kota kelahirannya. Ia dikenal sebagai seorang penemu pada saat mudanya, ia lulusan bidang ilmu elektronik, sains, dan matematika. Kemudian, ia menikah pada saat berumur 33. Istrinya bernama Barbara.

Saat menemukan paper clip pada tahun 1899, ia sedang bekerja di kantor paten Bryns di Kristiania yang berkaitan dengan penemuan. Pada saat itu, ia sedang melakukan pengepakan dokumen kertas yang berserakan di ruang kerjanya. Banyak sekali dokumen yang hilang. Kemudian, ia berpikir bagaimana caranya agar kertas bisa disusun dengan rapi dan praktis.

Vaaler mulai berpikir untuk membuat sebuah alat yang bisa menjepit kertas. Ia memulainya dengan prinsip tekanan, kertas yang dijepit dengan klip bisa mudah dilepas lagi dan penggunaan klip lebih praktis daripada menggunakan lem atau stapler. Tidak diragukan bahwasanya penjepit kertas merupakan sebuah alat sederhana dengan manfaat besar. Alat ini mempunyai bentuk dan prinsip kerja yang begitu sederhana.

Ia kemudian membuat dari kawat baja tipis yang ditekuk membentuk huruf S lalu dilipat. Lipatan itu membuat celah yang berguna untuk menjepit kertas. Ilmu yang digunakan dalam teknologi ini adalah ilmu tentang tekanan yang membuat kertas-kertas menyatu tanpa kerusakan. Tidak seperti stapler, penjepit kertas jauh memudahkan pengguna karena dapat dilepas dengan cepat dan gampang.

Setelah menggambarkan sketsa rancangan paper clip, temuan sederhana Vaaler ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Karya brilian ini harus berbenturan dengan masalah hak paten sebab di Norwegia tidak memiliki undang-undang hak cipta. Meski begitu, Vaaler tidak kehilangan akal. Untuk mematenkan karyanya ini, ia harus mendaftarkan hak ciptanya di Jerman dan setahun kemudian di Amerika Serikat. Kemudian, Vaaler memang sukses mendaftarkan klip temuannya di luar negeri walaupun sudah ada produk yang lebih baik. Beberapa jenis penjepit kertas sudah didaftarkan ke kantor paten AS sejak tahun 1867.

Meski demikian, klip yang dipatenkannya tidak pernah diproduksi secara massal karena sudah ada pengusaha pabrik Gem Manufacturing Ltd. Inggris yang membuat klip yang lebih praktis dan bakal laku dijual. Klip yang dihasilkan pabrik di Inggris disebut klip “Gem”. Bahannya dari kawat melengkung berbentuk oval yang berimpitan. Klip model Gem tidak pernah dipatenkan sehingga tahun penemuan tidak bisa diketahui, tetapi klip model Gem diperkirakan sudah ada beberapa tahun sebelum Vaaler mendaftarkan paten untuk klipnya.

Di sebagian besar literatur, pengusaha Inggris ini sering disebut-sebut sebagai pencipta klip model gem. Namun, di benak sebagian besar orang, klip adalah tetap dan selalu ciptaan orang Norwegia. Sebagian ahli justru lebih memuji klip buatan Norwegia dan menganggapnya lebih bagus dari produk yang pernah ada.

Walaupun demikian, klip sebagai produk “ciptaan” Johan Vaaler justru sudah telanjur tertanam di dalam benak orang Norwegia, dan klip dijadikan simbol nasionalisme Norwegia. Pada waktu itu, orang dilarang memakai peniti bergambarkan Raja Haakon VII dari Norwegia. Rakyat Norwegia menentang pendudukan Nazi Jerman sewaktu Perang Dunia II dengan memasang klip di kerah jas atau kerah baju. Klip dipakai sebagai lambang persatuan Norwegia karena “klip diciptakan orang Norwegia dan fungsinya untuk mempersatukan”.

14 Maret 1910, Vaaler meninggal pada usia 44 tahun, di Kristiania. Meskipun paper clip sudah ada sejak dulu sebelum dipatenkan, Johan Vaaler tetap diingat orang sebagai penemu klip. Sebagai penghormatan atas jasanya, klip penjepit kertas ukuran raksasa dibangun di dekat Kota Oslo.***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.





Charlotte Bronte, Perintis Novel Roman Dunia

14 02 2008

424px-charlotte_bronte_coloured_drawing.pngBerbahagialah dengan apa yang Anda miliki:
Bersukarialah dengan keadaan yang ada
Bila Anda menyadari tidak memiliki kekurangan apa pun,
Maka dunia ini menjadi milik Anda.

(Charlotte Bronte)

NOVEL berkembang dalam bentuk modern di Eropa selama masa renaisans. Isi novel-novel awal ini, mencerminkan perhatian masyarakat pada umumnya saat itu. Di dalamnya termasuk munculnya kelas menengah sebagai kelompok sosial, gugatan terhadap agama, dan nilai-nilai moral tradisional, minat terhadap sains dan filsafat, serta hasrat akan penjelajahan dan penemuan. Akan tetapi, pada 1847, penulis muda Charlotte Bronte membuat gebrakan dengan membuat sebuah novel klasik bergenre percintaan, Jane Eyre (1847).

Pada 21 April 1816 Charlotte Bronte terlahir ke dunia di sebuah desa di Yorkshire. Charlotte Bronte merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, yang tiga di antaranya kelak menjadi penulis novel. Pada usia empat tahun ibunya, Maria Branwell Bronte, meninggal dunia.

Sepeninggal ibunya, Bronte serta saudara-saudaranya, rajin membaca dan mereka-reka cerita tentang negeri-negeri mitos. Bronte kemudian juga menulis-puisi-puisi yang berdasarkan khayalan-khayalannya tersebut. Pada 1846, Bronte dan dua saudaranya, Emilly Bronte dan Anne, menerbitkan karya bersama Poems by Currer dan Ellis and Acton Bell. Meskipun hanya terjual dua eksemplar, mereka tidak patah semangat untuk menulis.

Latar belakang pendidikan sastra Charlotte Bronte didapat dengan mengikuti pelatihan literer di Pensionnate Hegers, Brussels. Caranya dengan meniru dan menganalisis gaya penulis klasik, di samping belajar bahasa Jerman. Dengan jalan ini, Bronte bisa membaca karya asli zaman Romantik Jerman, di luar George Gordon Byron, Baron Byron ke-6 yang dikagumi oleh Bronte.

Pada 1847, Charlotte Bronte, menerbitkan novel perdananya berjudul Jane Eyre yang mencapai kesuksesan. Novel ini bergaya Victoria yang menggambarkan wanita sebagai makhluk lemah. Jane Eyre merupakan kisah cinta tak sampai dengan struktur yang inovatif pada masanya. Diterbitkan pertama kali pada 1847, kisah tak biasa ini dipuji para kritikus novel.

Di saat menikmati kesuksesannya, Bronte harus rela kehilangan adiknya Emilly Bronte, yang meninggal dunia tahun 1850. Sebagai bentuk penghargaan kepada adiknya, Bronte menuliskan kata pengantar dalam novel Wuthering Heights karya Emily yang dicetak ulang. Dalam pengantarnya, Bronte mengatakan Wuthering Heights lebih bagus dari karyanya sendiri, Jane Eyre. Wuthering Heights karya Emily Bronte itu kini dianggap sebagai salah satu karya klasik dalam sastra Inggris. Walaupun Jane Eyre dianggap sebagai karya terbaik Bronte bersaudara, banyak yang berpendapat orisinalitas dan pencapaian Wuthering Heights melebihi dari berbagai sisi.

Buku Jane Eyre adalah karakter yang tipikal pada seorang gadis yang akibat tekanan-tekanan yang dihadapi menjadikannya pribadi pemberontak, meski dalam diam. Sementara tokoh laki-lakinya, Mr. Edward Fairfax Rochester, seperti kebanyakan telenovela, digambarkan kaya dan tampan. Secara tradisional, novel ini dipandang sebagai karya unik pencapaian seorang jenius dalam kesendirian yang hampir terlepas dari gerakan literer pada zaman tersebut. Bahkan, para kritikus pada zaman itu menyebutkan, karya Bronte memiliki kekuatan pada sisi narasi yang menampilkan konflik batin seorang wanita dan kondisi sosial.

Karya roman Bronte banyak memengaruhi para penyair, termasuk puisi cinta karya penyair Rusia, Pushkin, yang banyak terinspirasi oleh buku Jane Eyre. Bahkan, BBC television memberikan penghargaan kepada Charlotte Bronte dengan mengangkat novel Jane Eyre dalam serial miniseri. Pada Maret 2007, kisah roman klasik ini mampu menduduki peringkat ketiga dalam polling tentang 100 buku Inggris favorit. Ini menunjukkan karya-karya novel klasik masih menjadi bacaan yang bagus di antara pilihan-pilihan novel modern.

Charlotte Bronte meninggal 31 Maret 1855, dalam usia yang masih muda, 39 tahun. Karyanya memengaruhi banyak karya sastra dan seni di seluruh dunia mulai dari novel, opera, puisi, film sampai lagu. Novel Jane Eyre sekaligus karya pertama dan terakhir dari Charlotte Bronte. (Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung dan peminat novel)***





John S. Pemberton (1830-1888)

28 01 2008

Penemu Formula Coca Cola
httpmemorylocgov.jpg
SIapa yang tidak mengenal minuman bersoda Coca Cola. Konon lebih dari satu miliar botol (250 ml) Coca Cola terjual setiap hari di seluruh dunia. Minuman ringan yang bisa bikin orang bersendawa panjang itu ditemukan oleh apoteker bernama John Pemberton. Ia menemukan formula minuman Coca-Cola pada 8 Mei 1886 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

John S.Pemberton yang biasa dipanggil Doc adalah ahli farmasi tinggal di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Dia banyak mengembangkan obat-obatan paten yang diakui khasiatnya oleh masyarakat. Lahir di Knoxville, Georgia pada tahun 1831, namun ia menghabiskan masa kecilnya di Rome, Georgia.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di Southern Botanico Medical College of Georgia pada 1850, Pemberton membuat sebuah buku mengenai “Samuel Thomson`s Complete System of Practice”. Tahun 1855, Pemberton mendapatkan gelar kedokteran bidang farmasi dari Universitas Philadelphia. Kemudian, ia pindah ke Colombus Georgia, bersama istrinya Anna Eliza Clifford Lewis dan anak laki-lakinya Charles Ney Pemberton.

Sebelum menemukan formula Coca Cola, pada bulan Mei 1862 Pemberton sempat menjalani karier di bidang militer dengan pangkat letnan satu dalam kesatuan angkatan darat. Sebagai pemimpin pasukan, ia bertanggung jawab untuk menjaga kota. Bahkan dalam peperangan, Pemberton sempat tertembak di dadanya.

Setelah lima tahun berkarier di militer, Pemberton bekerja sebagai asisten Dr. Austin Walker, seorang psikolog. Selama bekerja, Pemberton menginvestasikan semua penghasilannya untuk penelitian dan pengembangan dalam bidang hak kepemilikan barang atau produk, seperti minyak parfum dan obat-obatan tradisional. Pada tahun 1869, Pemberton pindah ke Atlanta Georgia, untuk membangun karier bisnisnya. Di kota Atlanta, ia berhasil menciptakan dan menjual minuman yang mengandung alkohol French Wine Coca.

Namun, bisnis minuman yang memberikan banyak penghasilan itu tidak berjalan secara mulus. Semenjak Atlanta mengharamkan penggunaan alkohol pada tahun 1885, Pemberton terpaksa menukar formula French Wine Coca dengan membuang kata French Wine. Sejak diharamkan, kokain tidak lagi menjadi kandungan utama Coca Cola, tetapi diganti dengan kafein, gula, asam sitrat, dan minyak pati buah-buahan masih diperbolehkan. Formula Coca Cola masih menjadi rahasia yang tersimpan rapi.

Bersama dengan rekan sejawatnya yang mengurus keuangan, Frank Robinson, Pemberton membuat minuman segar yang bisa dinikmati banyak orang. Ia meracik minuman French Wine dengan menambahkan gula, asam sitrat, dan minyak pati buah-buahan ke dalam minuman. Akhirnya, terciptalah minuman Coca Cola yang kini populer sebagai minuman soda berkarbonat dalam masa yang singkat.

Untuk bahan utamanya, Pemberton harus mencari dan mengumpulkan biji cola dari tumbuhan asli daerah tropis Afrika Barat dan daun coca yang pohonnya berasal dari Amerika Selatan. Proses pengeringan biji cola dan daun coca dilakukan secara manual. Usaha Pemberton membuat minuman segar berhasil. Ramuannya terwujud seperti yang diharapkannya. Kemudian, Robinson mengusulkan nama Coca Cola untuk ramuan tersebut yang segera diterima oleh Pemberton. Formula Coca Cola kemudian oleh Pemberton diberi nama “Merchandise 7X”, atau disingkat M7X dan sangat dirahasiakan.

Dalam memasarkan produk minuman ini, Pemberton dan Robinson harus berjuang keras. Mereka menjualnya dalam guci dan dibawa berkeliling ke kota menggunakan gerobak kuda. Bahkan, mereka harus menjual secara gratis untuk mengenalkan Coca Cola. Meskipun mendapatkan sambutan baik dari masyarakat, namun penghasilan tidak meningkat. Dalam tahun pertama, penjualan Coca Cola hanya laku sekitar 50 dolar AS. Sementara itu, Pemberton sudah bertekad jika ramuannya ini harus dapat tersebar luas dan dapat dinikmati oleh semua orang di seluruh dunia.

Setelah satu tahun memperjuangkan ciptaanya, Pemberton baru menyadari bahwa ia hanyalah seorang penemu. Kemudian, ia berpikir untuk menjual ramuan ini pada orang yang tepat yang dapat mengembangkannya sesuai impiannya. Kemudian ia mendatangi Asa Candler, seorang anak pedagang terkenal dari Atlanta, yang dikenalnya secara baik. Ia menjual hak paten pembuatan minuman Coca Cola dengan harga 2.300 dolar AS.

Setelah mendapatkan ramuan itu, Asa Candler mencoba mengolah hasil temuan Pemberton. Setelah berhasil, Candler menyimpannya pada wadah yang menarik agar dapat mengundang pembeli, yaitu guci berlogo Coca Cola. Tak hanya itu, Candler juga memasang spanduk bertuliskan “Menjual Minuman Coca Cola” di depan toko obat dr. Joseph Pharmacy. Hanya dalam hitungan jam minuman tersebut laku terjual. Tahun 1889 Asa Candler melalui toko Joseph Jacob’s Pharmacy menjual Coca Cola untuk pertama kalinya.

Tahun 1892, Candler memutuskan untuk membentuk The Coca Cola Company bersama relasinya di Georgia Atlanta. Setahun kemudain, 1893 Candler mematenkan Coca Cola sebagai merek dagang. Coca Cola sesungguhnya bukan minuman ringan pertama di Amerika, tetapi ketika sudah mendapat paten Coca Cola menjadi minuman utama yang dijual di Soda Fountain, toko minuman ringan, es krim, dan sebagainya.

Dr. John Stith Pemberton meninggal tahun 1888, pada usia 58 tahun, tidak lama setelah menjual ramuannya. Kini, hasil temuannya masih dinikmati oleh masyarakat di dunia. Coca Cola sekarang menjadi satu lambang budaya Amerika Serikat. ***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.





Sylvan Nathan Goldman (1898-1984)

12 12 2007

realcartucom.jpgMenemukan Troli Karena Mainan Anak

Pernahkah Anda bayangkan bagaimana jika di supermarket tidak tersedia troli (kereta belanja)? Pastinya Anda akan kerepotan membawa belanjaan yang sangat banyak. Oleh karena itu, berterimakasihlah kepada Sylvan Nathan Goldman, seorang pemilik toko grosir makanan. Dialah orang yang berjasa menciptakan troli. Di AS lebih dikenal dengan sebutan shopping cart, shopping carriage, atau carriage saja.

Sylvan Goldman, lahir 15 November 1898, dari keluarga imigran Latvia. Goldman tumbuh di sana dan menjadi penjual makanan grosiran bersama kakak laki-lakinya. Namun, di pertengahan tahun 1921, Goldman mendapat cobaan begitu berat. Usahanya mengalami kebangkrutan, akibat dari melonjaknya harga minyak di Oklahoma. Negara mengalami krisis ekonomi yang berdampak buruk pada penghasilan ekonomi masyarakat, tak terkecuali Goldman.

Meski mendapatkan kenyataan pahit, Goldman tidak menyerah. Dengan bermodalkan semangat dagang yang begitu kuat, Goldman mencoba mengadu nasib di California untuk mempelajari metode baru mengenai penjualan makanan. Ia ingin menciptakan suatu sistem pelayanan bagi pelanggannya. Sistem yang ia kembangkan adalah bagaimana caranya membuat pelanggan betah berbelanja, sehingga mereka akan sering mengunjungi toko untuk menghabiskan uang belanja mereka. Ia juga berpikir bagaimana menciptakan sebuah alat yang bisa memudahkan pelanggannya membawa barang belanjaan dalam jumlah yang sangat banyak.

Sekembalinya dari California tahun 1936, Goldman kembali membuka tokonya Standard Food Markets, yang terletak di Oklahoma City, Amerika Serikat. Saat itulah, Goldman terinspirasi untuk membuat troli, sebuah kereta dorong belanja yang bisa membawa belanjaan dengan kapasitas yang cukup banyak. Konsepnya cukup sederhana. Selain untuk melayani pelanggan supermarket, juga untuk mempermudah membawa tumpukan belanjaan sehari-hari.

Inspirasi itu muncul ketika Goldman melihat banyak pelanggannya yang kerepotan membawa makanan saat pulang belanja di tokonya. Apalagi, jika belanjaan mereka banyak. Suatu ketika, ia melihat seorang ibu meletakkan sebagian barang belanjaannya pada mainan anaknya yang beroda dan bisa ditarik dengan tali.

Melihat hal unik itu, Goldman kemudian mengutak-atik keranjang belanjaan di tokonya. Mulanya, kereta dorong ia buat seperti kursi lipat sehingga jika tidak digunakan bisa disimpan dengan praktis dan ringkas. Kemudian, Goldman mulai berpikir bagaimana caranya agar pelanggannya bisa bergerak dengan cepat membawa belanjaan yang begitu menumpuk. Ia memasang semacam roda kecil di keempat sisi keranjang untuk memudahkan membawa barang belanjaan.

Kemudian ide itu ia kembangkan bersama ahli mekanik, Fred Young. Sebelum didesain, Goldman membuat kereta dorong dengan menggunakan bahan dari bingkai logam. Kemudian membuat kawat sebagai penopang, sehingga kereta belanja ini bisa memuat dua keranjang barang. Karena konsepnya dilipat, ketika dibuka panjangnya 24 inci, luasnya 18 inci, dan tingginya 36 inci.

Demi menambah kemudahan dan kepuasan pelanggannya, ia pun meminta bantuan insinyur teknik untuk membuatkan keranjang yang lebih modern. Maka, sejak tahun 1947, pembuatan kereta dorong belanjaan ini dibuat massal. Inilah yang jadi awal mula kereta dorong di supermarket yang ada sekarang.

Tak berjalan mulus

Karya brilian Goldman tidak berjalan secara mulus. Sejak pertama kali diluncurkan 4 Juni 1937, hasil ciptaannya mendapatkan tanggapan miring dari pelanggan tokonya. Mereka merasa keberadaan troli sebagai bentuk penghinaan terhadap kemampuan pembeli untuk membawa keranjang belanjaan dalam volume yang sangat banyak. Sehingga, banyak pelanggan tidak menggunakan kereta dorong untuk membawa belanjaan mereka. Meski begitu, Goldman tidak kehilangan akal. Ia menyewa pelanggan palsu untuk menggunakan kereta dorong ciptaannya. Orang-orang yang melihatnya mulai tertarik untuk mencobanya. Tidak lama kemudian, para pelanggan mulai memakai kereta itu.

Agar hasil karyanya tidak ditiru oleh orang lain, tahun 1938, Goldman mendaftarkan karyanya agar mendapat hak paten. Banyak perusahaan yang tertarik untuk membeli ide Goldman. Sesuai dengan perkembangannya, pada tahun 1947 kereta belanja ini dilengkapi tempat duduk untuk anak-anak agar para pelanggan bisa mengawasinya sambil berbelanja. Tidak lama kemudian, bentuk troli diperbesar menjadi dua tingkat, sehingga para pelanggan bisa menempatkan belanjaan selain makanan, juga aksesori rumah tangga dan kebutuhan sekunder lainnya

Pada tanggal 27 November 1984, Goldman meninggal 12 hari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-86 tahun. Ia meninggal karena umur yang sudah semakin tua. Ia dikenal oleh publik Amerika Serika sebagai salah seorang pengusaha yang sukses dan penemu troli. Konsep sederhana Goldman memanjakan konsumen dalam berbelanja.***

Fitriansyah
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung

Muat Dalam pikiran Rakyat, 6 Desember 2007





Dalam Sunyi, Melawan Diskriminasi

1 11 2007

gordimerb.jpg TULISAN dapat menjadi gambaran sosok penulisnya sebagai pelayan kemanusiaan, sejauh dia menggunakan kata untuk memercayai kompleksitas kebenaran. Nadine Gordimer tahu benar hal itu. Sebagai penulis dan aktivis anti-apartheid di Afrika Selatan (Afsel), perempuan kelahiran 20 November 1923 itu mengalami, atau setidaknya, melihat sendiri bagaimana pahitnya memperjuangkan kebenaran.

Ia seorang novelis dan penulis cerita pendek terkemuka. Reputasinya tak terbantahkan karena menulis banyak sisi rasisme. Kekuatan tulisannya terletak pada kedalaman wawasan, kekuatan dialog tokoh yang realistik, tulisan yang hidup, dan gaya ironinya terhadap ketidakadilan sosial di Afsel karena politik apartheid

Gordimer mampu menghasilkan karya yang tersusun rapi dan analisis yang brilian. Tulisannya mampu menerjemahkan kemiskinan di Afsel tak sebatas kemiskinan material. Lebih jauh, kemiskinan jiwa yang meruyak dan kemiskinan bahasa dalam kebisuan.

Aktivitasnya dalam menulis sastra untuk memperjuangkan gerakan antiapartheid membuat Gordimer kebanjiran penghargaan internasional. Itu dimulai pada 1961 (W. H. Smith Commonwealth Literary Award dari Inggris) dan Booker Prizer pada 1974 untuk karyanya The Conservationist. Puncaknya adalah pada 1991, saat ia menerima Nobel untuk sastra. Ketika menerima Nobel tahun 1991, Presiden F.W. de Klerk tidak memberikan ucapan selamat kepada Gordimer karena pemerintah apartheid masih berkuasa.

Gordimer lahir di sebuah kota pertambangan di luar Johanesburg. Di sana, ia sering melihat ketidakadilan atas perlakuan diskriminatif terhadap kulit hitam. Peristiwa itu melahirkan sikap menentang politik apartheid, sistem yang membagi golongan manusia secara ekstrem.

Ia baru benar-benar terlibat dalam aktivitas anti-apartheid saat sahabatnya, Bettie du Toit, ditangkap pada 1960. Gordimer kemudian bersahabat dengan para pengacara Nelson Mandela, Bram Fischer dan George Bizos, saat pemimpin kulit hitam itu diadili pada 1962. Ketika Mandela dibebaskan dari penjara pada 1990, Gordimer termasuk salah seorang yang ingin Mandela temui.

Bagi Gordimer yang hidup di tengah pergolakan sosial, pertentangan kelas sangat tajam, dan penerapan sistem apartheid, yang dilakukannya ialah mengkritik rasisme dan ketidakadilan dengan cara elegan. Sikap kritik terhadap apartheid, ia tuangkan melalui tulisan. Dalam tulisannya, Gordimer menggunakan sistem apartheid dan transisi apartheid untuk memotret kemuraman hidup. Tema fundamental dalam karya-karya Gordimer, melibatkan nilai, sikap, dan tingkah laku manusia akibat sistem apartheid di Afsel.

Gordimer berprinsip apa yang ditulis atau katakan akan menjadi kebenaran, sebagaimana karya-karya fiksi yang ditulisnya. Bahkan, ia memperingatkan, ada saatnya seorang penulis berhenti menulis, dan bertindak dalam cara yang lain. Gordimer juga seorang penyangsi (skeptis) dan pengkritik yang keras terhadap rasionalisme yang kaku dan moralitas riasan peradaban Barat.

Sebagai penulis, Gordimer sering kali mendapat ancaman diculik dan dibunuh dari pemerintah Afsel. Namun, tindakan intimidasi itu, tidak memutuskan semangatnya untuk terus berkarya. Puncaknya, novel Burger Daughter (1979) yang ditulis setelah kerusuhan Suweto dilarang beredar oleh pemerintah Afsel.

Dalam karyanya yang lain, Occasion for Loving (1963) ia bercerita tentang hubungan cinta antara pria hitam dan gadis putih dan The Late Bourgeois World (1966) tentang hubungan antara pembantu hitam dan majikan putih. Kedua novel tersebut mengangkat tema menentang antirasialisme, tak peduli dari ras dan agama apa mereka berasal. Gordimer juga mengkritik situasi yang chaotic, setelah apartheid bubar, dalam The House Gun (1998).

Ia menjadi saksi, di saat-saat terakhir menjelang kehancuran apartheid dan sisa-sisa kolonialisme abad ke-20. Gordimer berusaha melayani masyarakat dengan tulisan, semampu yang bisa dilakukan, dengan mempertaruhkan keberanian dan kejujuran dalam membela idealisme. Dengan cara sendiri, dia ikut mendukung arus perubahan di Afsel. (Fitriansyah, alumnus Stikom Bandung)

Dalam Pikiran-Rakyat, Suplemen Kampus, Kamis 1 November 2007





Louis Henri Sullivan (1856-1924)

22 10 2007

louissullivan02.jpgPelopor Pembangunan Pencakar Langit

Louis Henri Sullivan (1856-1924) merupakan desainer pertama yang menciptakan konsep pembangunan kontruksi gedung pencakar langit (skyscraper). Ia dianggap sebagai “bapak bangunan pencakar langit”, dengan membangun gedung tinggi (Wainwright Building) yang menjadi cikal bakal pencakar langit di Amerika dan dunia. Karyanya yang lain, Carson Pirie Scott Building, dibangun di Chicago, Illinois (1904).

Arsitek lulusan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat ini terkenal karena menampilkan teknologi baru yang menyatukan teknologi rangka baja ke dalam seni bangunan. Sullivan memperkenalkan prinsip fungsionalisme, yaitu kesempurnaan bentuk dalam arsitektur dan demokrasi arsitektur.

Sullivan terlahir dari rahim seorang ibu yang berprofesi sebagai pengajar dansa. Ia lahir di Boston, 3 September 1856. Sewaktu sekolah di tingkat menengah atas, Sullivan bertemu dengan Moose Watson, seorang guru yang kelak mengasuhnya sampai ia meninggal. Kecerdasan Sullivan sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia lulus hanya dalam waktu dua tahun, sehingga saat masuk kuliah, usianya masih terlalu dini, 16 tahun. Setelah lulus sekolah menengah atas, orang tuanya pindah ke Chicago, tapi Sullivan tetap tinggal di kota kelahirannya untuk belajar beberapa tahun di Massachusetts Institute of Technology’s Architectural Program.

Setelah lulus kuliah, Sullivan menghabiskan waktu di kota Paris, Prancis, untuk bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang desain bangunan. Pada saat berkunjung ke Roma, Italia, karya seni Renaissance memberikan inspirasi yang luar biasa pada Sullivan. Sejak itu ia berkeinginan untuk menciptakan karya seni dengan semangat penciptaan ala Michelangelo.

Untuk mencapai keinginan itu, Sullivan kemudian pindah bekerja di Philadelphia, Amerika Serikat. Tahun 1873, perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, kemudian ia pindah ke Chicago, untuk bekerja di William LeBaron Jenney dengan profesi yang sama.

Di Chicago ia menjadi perancang untuk Jonh Edelman, dengan mendesain gedung yang berhubungan dengan perhiasan organik. Meskipun pekerjaan tersebut memberikan pengaruh yang cukup penting bagi karir Sullivan, namun pada tahun 1879 Sullivan memutuskan untuk pindah ke perusahaan Dankmar Adler (1844-1900), yang memiliki banyak insinyur terkemuka.

Pada tahun 1873, Sullivan turut andil membangun kembali Kota Chicago yang mengalami kebakaran besar yang menghanguskan sebagian besar bangunan. Untuk membangun kembali kota Chicago diperlukan suatu teknik membangun yang efisien, cepat, dan ekonomis. Melalui tangan Sullivan, Kota Chicago dibangun kembali dengan menggunakan sistem grid. Bangunan yang ada pada saat itu seolah-olah memiliki gaya dan bentuk yang seragam, dengan ciri seperti bangunan bertingkat banyak dengan sistem struktur baja (kolom dan balok). Sullivan menciptakan suatu gaya seni dengan format alami. Hal ini dilakukan sebagai upaya penolakannya terhadap perusahaan yang lebih mementingkan pembangunan gedung bergaya praktis. Pada masa itulah dianggap sebagai munculnya arsitektur modern di Amerika Serikat.

Salah satu karya lain yang terkenal adalah Auditorium Building. Gedung ini merupakan landmark Kota Chicago, yang menyatukan kegiatan komersial dan kesenian dalam satu atap. Dengan memadukan konfigurasi persegi-empat (rectangular), segi empat yang banyak dipakai pada masa itu, dengan pelengkung Ro-manesque dan Queen Anne, menara kecil berpuncak runcing, atap Chateausqe dan dormers.

Dinding luar dan lantai bawah terlihat sebagai susunan batu berkesan kokoh, dengan deretan jendela seperti pada bangunan bergaya Renaissance. Pintu masuk menuju hall utama dan theatre terdiri dari tiga pintu besar berpelengkung di atasnya. Di atasnya terdapat kolom-kolom silindris bergaya Dorik dari lantai 2-5 menyangga pelengkung-pelengkung Romanesque.

Kepintaran Sullivan dalam mendesain dan mengontruksi sebuah bangunan gedung di kota Chicago telah memberikan masukan kepada sejarah arsitektural. Louis Henry Sullivan meninggal pada tanggal 14 April 1924 di Chicago. Ia meninggal dalam kemiskinan, di salah satu kamar hotel, tanpa ada pekerjaan selama dua tahun terakhir. Kemudian ia dimakamkan dekat kuburan ayahnya, Patrick, dan ibunya, Andrienne, di Graceland Chicago, 16 April 1924. Dalam laporan mengenai catatan kematiannya, surat kabar New York Times menulis, “Sullivan adalah pelopor arsitek”

Pada akhir dekade abad ke-19, Sullivan meninggalkan sejumlah karya besar yang tak lapuk oleh gerak zaman. Sentuhan arsiteknya memberikan suatu ilmu bangunan baja bertingkat secara revolusioner. (Fitriansyah, Staf CEO Forum Rektor Indonesia).***

Muat dalam pikiran-rakyat, edisi cakrawala 11 Oktober 2007





Blaise Pascal (1623-1662)

8 10 2007

foto-blaise_pascaljpeg.jpgPenemu Kalkulator Roda Numerik

SIAPA tak kenal kalkulator? Perangkat yang satu ini dikenal sebagai mesin hitung yang sangat membantu banyak orang. Bagi para pedagang, kalkulator benar-benar dijadikan “asisten pribadi” dalam urusan keakuratan dan kecepatan menghitung laba rugi. Bagi para pelajar dan mahasiswa, kalkulator juga dipakai untuk proses penghitungan yang lebih rumit dan berjenjang. Pendek kata, banyak orang terbantu oleh kehadiran kalkulator, apalagi mereka yang relatif “malas” menghitung.

Orang yang dianggap berjasa menemukan kalkulator adalah Blaise Pascal. Kalkulator temuan Pascal berupa mesin hitung roda numerik dan lebih dikenal dengan Pascaline. Mesin tersebut merupakan salah satu dari sekian temuan mengagumkan dari ahli matematik dan sains asal Prancis tersebut.

Blaise Pascal lahir di Kota Clermont, Prancis. Ia anak dari seorang ilmuwan dan matematikawan, Etienne Pascal. Ibunya, Antoinette Bigure, meninggal saat umur Pascal berumur empat tahun, tak lama setelah memberinya seorang adik perempuan, Jacqueline. Kedua saudara perempuan ini memberi pengaruh besar pada kehidupan Pascal. Tidak lama kemudian mereka berempat pindah dari Clermont ke Paris agar dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Sewaktu kecil, Pascal tidak menikmati bangku sekolah. Ia belajar kepada ayahnya dan sesekali oleh guru pribadi. Pada usia 12 tahun, Pascal mulai mengenali ilmu pengetahuan alam, belajar penguasaan bahasa dan matematika. Minat ingin tahu ternyata di luar dugaan sang ayah. Oleh karena itu, pada umur 13 tahun sudah menemukan rumus segi tiga Pascal. Kemudian, Pascal disertakan sebagai anggota kelompok diskusi di rumah Mersenne di dekat Paris. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif.

Saat itulah Pascal bertemu dan berdiskusi dengan Descartes, Fermat, dan Roberval. Mersenne sebenarnya hanya teman sekolah Descartes, namun posisinya di dekat raja dan mempunyai kegemaran akan matematika membuat dia menyediakan tempat dan waktu untuk pertemuan pakar dan terutama matematikawan pada zaman itu. Ketertarikan Mersenne akan ilmu pengetahuan ini membuat dia –dengan dukungan negara– mendirikan Akademi Sains Prancis (French Academy of Sciences). Ide Mersenne ini, kemudian ditiru oleh Inggris dengan mendirikan lembaga serupa, Royal Society.

Di usia remaja, ilmuwan muda itu harus menerima kenyataan pahit. Ayahnya terlibat persekongkolan menentang pemerintah dalam hal pembayaran pajak. Etienne dan para sekongkolnya menentang gereja yang menarik pajak kepada rakyat. Beberapa anggota “konspirasi” ditangkap dan sebagian lainnya melarikan diri. Akhirnya, Etienne memutuskan untuk melarikan diri dengan meninggalkan semua anaknya di Paris. Setelah tertangkap oleh pemerintah, ayahnya diampuni oleh Kardinal Richelieu, kemudian dipanggil pulang ke Paris dari tempat persembunyiannya. Selanjutnya, Etienne ditugaskan oleh Kardinal menjadi pemungut pajak untuk wilayah Normandia.

Saat itulah, ditahun 1642, ketika Pascal berusia 18 tahun, menemukan alat penghitung kalkulator roda numerik (numerical wheel calculator), atau Pascaline. Alat ini, ia ciptakan untuk membantu ayahnya menghitung penerimaan pajak. Mesin penghitung bilangan ini mampu melakukan operasi tambah, kurang, dan pembagian.

Hasil karya Pascal menjadi buah bibir dan menciptakan sensasi. Pascal dengan penuh gairah menjelaskan di depan orang-orang terpandang dan para matematikawan. Sayang, pemerintah bersikap dingin dan Pascaline tidak layak diproduksi secara massal karena biaya produksinya terlalu tinggi. Kemudian, dia memasang paten mesin ini setelah seorang tukang jam mencoba meniru dan menjual mesin hitung tiruan.

Sayangnya, di samping cerdas, Pascal memiliki tabiat buruk. Ia senang berpesta dan berjudi, terutama selama di Clermont dan di Paris. Hobi berpesta pora ini membuat ayahnya bangkrut. Pascal pun berupaya menjual mesin hitung kepada Ratu Christina dari Swedia, namun ditolak. Tahun 1651 ayahnya wafat dan meninggalkan warisan yang–untuk sementara cukup membantu keuangan Pascal. Namun, karena kesenangannya berjudi, harta warisan itu pun habis.

Kehidupan kelam Pascal berjalan selama dua tahun sebelum disadarkan oleh Gilberte. Setelah itu, Pascal melakukan kolaborasi dengan Fermat mencetuskan teori probabilitas. Ini barangkali sisi positif yang diperolehnya dari kegemaran berjudi. Seperti halnya Cardano, Pascal tertarik dengan teori probabilitas lewat lemparan dua dadu yang didipelajarinya bersama Fermat, yang tak lain adalah teman ayahnya. Keduanya ternyata mampu memberi dasar perkembangan bidang-bidang lain seperti menghitung risiko asuransi, menginterpretasikan statistik, dan mempelajari keturunan.

Meski berotak cerdas, sejak lahir Pascal memiliki fisik lemah dan mudah terserang penyakit. Tanggal 19 Agustus 1662, dini hari, Pascal meninggal setelah lama tidak sadarkan diri. Penyebab kematiannya tidak diketahui dengan jelas. Beberapa orang menyebut karena TBC, sementara yang lain menyebut karena keracunan logam atau terkena dyspepsia yang melemahkan fungsi otak. Pascal meninggalkan karya yang berjudul Pensees dan Provincial Letters yang sama sekali tidak berhubungan dengan matematika.

Mesin hitung buatan Pascal kemudian menjadi cikal-bakal pengembangan mesin hitung serupa seperti yang dibuat oleh seorang matematikawan dan filsuf Jerman, Gottfred Wilhem von Leibniz (1646-1716). Leibniz menilai mesin hitung ini masih banyak kekurangannya karena hanya terbatas untuk melakukan penjumlahan. Pada tahun 1694, Dengan mempelajari catatan dan gambar-gambar yang dibuat oleh Pascal, Leibniz dapat menyempurnakan alatnya yang mampu memproses perkalian.

Kemudian pada tahun 1820, kalkulator mekanik mulai populer. Charles Xavier Thomas de Colmar menemukan mesin yang dapat melakukan empat fungsi aritmatika dasar. Kalkulator mekanik Colmar yang diberi nama arithometer dapat melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dengan kemampuannya, arithometer banyak dipergunakan hingga masa Perang Dunia I. Bersama-sama dengan ide Pascal dan Leibniz, Colmar membantu membangun era komputasi mekanikal.

Pada tahun 1822 seorang profesor matematika Inggris, Charles Babbage (1791-1871), menemukan suatu mesin untuk melakukan perhitungan persamaan diferensial. Mesin tersebut dinamakan Mesin Diferensial. Babbage terinspirasi untuk memulai membuat komputer general-purpose yang pertama, yang disebut Analytical Engine. (Fitriansyah, Staf CEO Forum Rektor Indonesia).***

Muat Pikiran-Rakyat Edisi Cetak – Kamis, 20 September 2007





Murasaki Shikibu (976-1031)

8 10 2007

shikibu.jpgWanita Pertama Penulis Novel di Dunia

NOVEL dunia pertama yang ditulis oleh seorang wanita adalah “The Tale of Genji” (Genji Monogatari). Novel ini ditulis Murasaki Shikibu pada tahun 1007. Novel ini dihasilkan dengan menggunakan sistem tulisan hiragana yang mengandung 54 bab. Selain mengisahkan seorang aristokrat, Hikaru Genji, ia juga menceritakan kehidupan Genji dan kisah cintanya dengan latar istana berasaskan pengalaman pengarangnya sewaktu tinggal di istana.

Murasaki yang berarti bunga violet, seorang wanita yang tinggal di istana kerajaan Heian (795-1192) di Kyoto. Dibesarkan di tengah keluarga Gubernur Fujiwara, Murasaki tumbuh sebagai anak yang pintar dan belajar lebih cepat dibandingkan dengan saudara laki-lakinya. Meski ayahnya kecewa karena Murasaki bukan dilahirkan sebagai anak laki-laki, ia tetap tekun belajar mempelajari bahasa Cina yang dipandang tidak pantas bagi perempuan di masa itu.

Pada waktu itu, Murasaki hidup pada zaman periode Heian Jepang. Panorama politik periode itu, selama beberapa abad dikuasai oleh klan Fujiwara melalui perkawinan dengan keluarga kerajaan dan menempati seluruh jabatan penting di Kyoto dan beberapa provinsi utama. Kekuatan itu mencapai puncaknya di masa hidup Murasaki Shikibu ketika Fujiwara Michinaga menjadi gubernur pada 1016. Setelah Michinaga, posisi klan Fujiwara terus melemah hingga kekuatan beralih kepada kelas militer.

Akhirnya, Murasaki dapat membaca literatur Cina yang masuk ke Jepang pada abad kesebelas dan mengasah kemampuan menulisnya dengan latar budaya Cina. Setelah suaminya meninggal pada 1001, keluarga kerajaan memanggil Murasaki untuk tinggal di istana sebab bakat menulis dan otaknya yang cemerlang. Di sinilah Murasaki mulai menulis catatan harian tentang kehidupan di istana yang memengaruhi penulisan novelnya. Setelah kematian Kaisar Ichijo tahun 1011, ia mengundurkan diri dari istana. Kemudian meninggal sekitar tahun 1031.

Di antara buku-buku klasik Jepang, Genji Monogatari termasuk karya yang sulit dibaca, bukan hanya karena panjangnya yang mencapai 750.000 kata, tetapi juga karena ditulis dalam cita rasa bahasa yang kuno.

Sepeninggal Murasaki, karyanya tidak pernah mati. Seorang penyair dan esais pada masa gerakan pembebasan perempuan Jepang, Yosano Akiko (1878-1942), memelopori penyediaan terjemahan modern novel Murasaki. Ia berusaha menghidupkan kembali karya Murasaki sebab abad-abad sebelumnya karya Murasaki sering dikutip dan mendapat tempat terhormat dalam perbincangan sastra Jepang. Namun, baru di awal abad kedua puluh ada upaya untuk menjadikannya bacaan yang dapat dinikmati di luar lingkaran akademis yang pekat.

Tidak sampai di situ saja, pada 1999 seorang pendeta dan novelis wanita dari Kyoto bernama Setouchi Jakucho, menulis ulang buku Genji Monogatari ke dalam bahasa Jepang modern dan memberi tafsiran baru terhadap tindakan seksual tokoh-tokohnya. Sambutan luas dan memicu ledakan popularitas novel klasik ini di tengah masyarakat Jepang.

Demam Genji Monogatari pun merambah ke Eropa. Pada tahun 1925 hingga 1933, Arthur Waley melalui terjemahan Inggris terdiri atas enam jilid buku. Meski sering dikritik karena tidak akurat dan terlalu memanipulasi teks aslinya, berdasarkan edisi Waley inilah kisah Genji dikenal dunia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa. Genji dalam bahasa Jerman digarap oleh Oscar Benl pada 1966 dan dalam bahasa Prancis oleh Rene Seiffert pada 1978-1988. Novel ini juga sudah dialihkan ke bahasa Rusia, Korea, Cina, Ceko, Italia, dan Finlandia. Terjemahan bahasa Inggris yang lengkap dan lebih hati-hati dibandingkan dengan sebelumnya dilakukan lagi oleh Edward Seidensticker pada 1976.

Pada 2001, terjemahan Inggris yang ketiga atas novel tertua dunia ini diterbitkan oleh Viking Penguin. Hasil kerja Royall Tyler, seorang profesor bahasa dan sastra Jepang di Australian National University. Ini muncul dalam bentuk dua jilid buku dengan ketebalan total lebih dari 1.000 halaman. Versi Tyler ini antara lain memuat daftar tokoh dan ringkasan plot di awal setiap bab untuk membantu seorang pembaca pemula memasuki dunia Genji yang rumit dan berlapis-lapis.

Genji Monogatari kini dinobatkan sebagai novel tertua dunia oleh UNESCO. (Fitriansyah, alumnus Stikom Bandung dan peminat novel)***

Muat di edisi Suplemen Kampus Pikiran-Rakyat, Kamis, 30 Agustus 2007





Gaylord Nelson, Pencetus Hari Bumi Sedunia

8 10 2007

nelson_tws_200.jpgPADA tanggal 22 April 1970, kira-kira 20 juta warga Amerika Serikat (AS) turun ke jalan memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan. Ribuan mahasiswa berkumpul menentang kerusakan lingkungan yang disebabkan buruknya saluran pembuangan, serta semakin punahnya kelestarian flora di negeri itu. Aktor utama aksi nasional itu adalah Gaylord Nelson, politikus dan senator pertama yang menyuarakan isu-isu lingkungan menjadi agenda Senat AS.

Gaylord Nelson dilahirkan 4 Juni 1916, di Clear Lake, salah satu kota di Wisconsin, AS. Dia menghabiskan masa kanak-kanaknya di kota itu. Ia menerima gelar sarjana hukum dari Universitas Wisconsin. Pada saat Perang Dunia II, Nelson sempat berkarier di Angkatan Perang AS selama 46 bulan dengan pangkat letnan satu. Setelah berhenti sebagai tentara, Nelson mempraktikkan ilmu hukum di Madison.

Senator Nelson dikenal sebagai pendiri Hari Bumi 35 tahun yang lalu. Pada musim panas 1969, Gaylord mengetahui bahwa aksi demonstrasi antiperang Vietnam telah menyebar secara luas melalui perguruan tinggi di seluruh negeri. Dari sana, ia mendapat ide untuk melakukan hal yang sama dalam kampanye lingkungannya. Ia memilih kalangan bawah dalam melakukan aksi protes terhadap kerusakan lingkungan. Dalam suatu konferensi di Seattle, September 1969, Gaylord mengumumkan akan mengadakan demonstrasi secara nasional pada musim semi 1970 atas nama lingkungan dan setiap orang diundang untuk berpartisipasi. Setelah itu, berbagai surat, telegram, dan telefon mengalir dari seluruh negeri.

Penurunan kualitas

Warga Amerika akhirnya menemukan forum untuk mengungkapkan kepeduliannya atas penurunan kualitas tanah, sungai, danau, dan udara di lingkungan mereka. Pada 30 November 1969, surat kabar The New York Times melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kepedulian terhadap lingkungan di seluruh negeri terutama di kampus-kampus. Hal ini menjadi bukti keberhasilan perjuangan Gaylord Nelson dalam mengedepankan isu lingkungan sebagai agenda nasional.

Perjuangan Gaylord Nelson sebenarnya telah dimulai sekitar lebih dari 7 tahun sebelum demonstrasi besar-besaran pada 22 April 1970, yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Bumi. Pada awalnya, Gaylord berharap pemikirannya tercapai melalui kunjungan yang dilakukan Presiden John F. Kennedy ke 11 negara bagian pada September 1963. Namun, dengan beberapa alasan, kunjungan tersebut tidak mampu membawa isu lingkungan ke dalam agenda nasional. Upaya terus dilakukan Gaylord untuk merealisasikan idenya. Pada tahun itu juga, Gaylord melakukan kampanyenya sendiri dengan isu utama penurunan kualitas lingkungan terjadi di mana-mana.

Agenda nasional

Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan. Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional. Dalam sepucuk surat yang dimuat website Earth Day, Senator Nelson menulis bahwa dalam tahun-tahun sebelum Hari Bumi pertama diluncurkan pada tahun 1970, ia prihatin melihat masalah lingkungan tidak menjadi isu dalam dunia politik AS. “Rakyat prihatin, tetapi para politikus tidak,” tulisnya.

Tulisan ini terkenal dan dikenang sampai sekarang oleh publik Amerika. Di dalamnya, Nelson sekaligus menegaskan tentang niatnya untuk melakukan upaya-upaya penyadaran lingkungan itu bersama-sama dengan masyarakat AS. Mantan Senator itu mengatakan bahwa ia mengangkat Hari Bumi sebagai demonstrasi akar rumput di seluruh Amerika Serikat atas nama lingkungan. Peringatan Hari Bumi terjadi karena respons spontan dari lapisan akar rumput. “Kami tidak memiliki waktu dan tenaga untuk mengorganisasi 20 juta demonstran dan ribuan sekolah serta komunitas lokal untuk berpartisipasi. Itulah hal yang menakjubkan tentang Hari Bumi. Kami akan mengorganisasi diri sendiri untuk kampanye ini,” ungkap Nelson.

Berubah

Senator Gaylord Nelson meninggal dunia pada Ahad pagi, 3 Juli 2005, dalam usia 89 tahun. Sepeninggal Gaylord, kebijakan-kebijakan pemerintah politik dan hukum di Amerika Serikat berubah. Mulai dari terbentuknya Greenpeace di Kanada –organisasi fenomenal dengan aksi-aksi “nekatnya” satu tahun kemudian. Di tingkat dunia, UNEP (United Nations Environment Programme) dibentuk setelah konferensi PBB di Stockholm tahun 1972, yang diikuti juga dengan pembentukan lembaga perlindungan lingkungan hidup di beberapa negara. Isu sentral ketika itu adalah pencemaran udara dan hujan asam di Eropa. Kesadaran pun mengembang semakin luas.

Sekarang, setelah 35 tahun berselang dan di tahun-tahun yang lalu, Hari Bumi tidak hanya diperingati masyarakat AS, tetapi juga oleh masyarakat di berbagai negara, sebagai suatu komunitas global. Tercatat dari data Earthday Network, Hari Bumi tahun 2004 lalu dirayakan di 175 negara oleh sekitar 15.000 organisasi, dan diikuti oleh lebih dari 500 juta orang.

Indonesia akan melakukan pesta akbar Pemilu 2009. Di tengah isu global warning saat ini, semoga masih ada pejabat yang mau memerhatikan kondisi lingkungan di Indonesia seperti yang pernah dilakukan Gaylor Nelson. (Fitriansyah, Staf CEO Forum Rektor Indonesia)***

 

(Muat: Edisi Cetak Pikiran Rakyat- Selasa, 14 Agustus 2007)





Hello world!

8 10 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!