Blaise Pascal (1623-1662)

8 10 2007

foto-blaise_pascaljpeg.jpgPenemu Kalkulator Roda Numerik

SIAPA tak kenal kalkulator? Perangkat yang satu ini dikenal sebagai mesin hitung yang sangat membantu banyak orang. Bagi para pedagang, kalkulator benar-benar dijadikan “asisten pribadi” dalam urusan keakuratan dan kecepatan menghitung laba rugi. Bagi para pelajar dan mahasiswa, kalkulator juga dipakai untuk proses penghitungan yang lebih rumit dan berjenjang. Pendek kata, banyak orang terbantu oleh kehadiran kalkulator, apalagi mereka yang relatif “malas” menghitung.

Orang yang dianggap berjasa menemukan kalkulator adalah Blaise Pascal. Kalkulator temuan Pascal berupa mesin hitung roda numerik dan lebih dikenal dengan Pascaline. Mesin tersebut merupakan salah satu dari sekian temuan mengagumkan dari ahli matematik dan sains asal Prancis tersebut.

Blaise Pascal lahir di Kota Clermont, Prancis. Ia anak dari seorang ilmuwan dan matematikawan, Etienne Pascal. Ibunya, Antoinette Bigure, meninggal saat umur Pascal berumur empat tahun, tak lama setelah memberinya seorang adik perempuan, Jacqueline. Kedua saudara perempuan ini memberi pengaruh besar pada kehidupan Pascal. Tidak lama kemudian mereka berempat pindah dari Clermont ke Paris agar dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Sewaktu kecil, Pascal tidak menikmati bangku sekolah. Ia belajar kepada ayahnya dan sesekali oleh guru pribadi. Pada usia 12 tahun, Pascal mulai mengenali ilmu pengetahuan alam, belajar penguasaan bahasa dan matematika. Minat ingin tahu ternyata di luar dugaan sang ayah. Oleh karena itu, pada umur 13 tahun sudah menemukan rumus segi tiga Pascal. Kemudian, Pascal disertakan sebagai anggota kelompok diskusi di rumah Mersenne di dekat Paris. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif.

Saat itulah Pascal bertemu dan berdiskusi dengan Descartes, Fermat, dan Roberval. Mersenne sebenarnya hanya teman sekolah Descartes, namun posisinya di dekat raja dan mempunyai kegemaran akan matematika membuat dia menyediakan tempat dan waktu untuk pertemuan pakar dan terutama matematikawan pada zaman itu. Ketertarikan Mersenne akan ilmu pengetahuan ini membuat dia –dengan dukungan negara– mendirikan Akademi Sains Prancis (French Academy of Sciences). Ide Mersenne ini, kemudian ditiru oleh Inggris dengan mendirikan lembaga serupa, Royal Society.

Di usia remaja, ilmuwan muda itu harus menerima kenyataan pahit. Ayahnya terlibat persekongkolan menentang pemerintah dalam hal pembayaran pajak. Etienne dan para sekongkolnya menentang gereja yang menarik pajak kepada rakyat. Beberapa anggota “konspirasi” ditangkap dan sebagian lainnya melarikan diri. Akhirnya, Etienne memutuskan untuk melarikan diri dengan meninggalkan semua anaknya di Paris. Setelah tertangkap oleh pemerintah, ayahnya diampuni oleh Kardinal Richelieu, kemudian dipanggil pulang ke Paris dari tempat persembunyiannya. Selanjutnya, Etienne ditugaskan oleh Kardinal menjadi pemungut pajak untuk wilayah Normandia.

Saat itulah, ditahun 1642, ketika Pascal berusia 18 tahun, menemukan alat penghitung kalkulator roda numerik (numerical wheel calculator), atau Pascaline. Alat ini, ia ciptakan untuk membantu ayahnya menghitung penerimaan pajak. Mesin penghitung bilangan ini mampu melakukan operasi tambah, kurang, dan pembagian.

Hasil karya Pascal menjadi buah bibir dan menciptakan sensasi. Pascal dengan penuh gairah menjelaskan di depan orang-orang terpandang dan para matematikawan. Sayang, pemerintah bersikap dingin dan Pascaline tidak layak diproduksi secara massal karena biaya produksinya terlalu tinggi. Kemudian, dia memasang paten mesin ini setelah seorang tukang jam mencoba meniru dan menjual mesin hitung tiruan.

Sayangnya, di samping cerdas, Pascal memiliki tabiat buruk. Ia senang berpesta dan berjudi, terutama selama di Clermont dan di Paris. Hobi berpesta pora ini membuat ayahnya bangkrut. Pascal pun berupaya menjual mesin hitung kepada Ratu Christina dari Swedia, namun ditolak. Tahun 1651 ayahnya wafat dan meninggalkan warisan yang–untuk sementara cukup membantu keuangan Pascal. Namun, karena kesenangannya berjudi, harta warisan itu pun habis.

Kehidupan kelam Pascal berjalan selama dua tahun sebelum disadarkan oleh Gilberte. Setelah itu, Pascal melakukan kolaborasi dengan Fermat mencetuskan teori probabilitas. Ini barangkali sisi positif yang diperolehnya dari kegemaran berjudi. Seperti halnya Cardano, Pascal tertarik dengan teori probabilitas lewat lemparan dua dadu yang didipelajarinya bersama Fermat, yang tak lain adalah teman ayahnya. Keduanya ternyata mampu memberi dasar perkembangan bidang-bidang lain seperti menghitung risiko asuransi, menginterpretasikan statistik, dan mempelajari keturunan.

Meski berotak cerdas, sejak lahir Pascal memiliki fisik lemah dan mudah terserang penyakit. Tanggal 19 Agustus 1662, dini hari, Pascal meninggal setelah lama tidak sadarkan diri. Penyebab kematiannya tidak diketahui dengan jelas. Beberapa orang menyebut karena TBC, sementara yang lain menyebut karena keracunan logam atau terkena dyspepsia yang melemahkan fungsi otak. Pascal meninggalkan karya yang berjudul Pensees dan Provincial Letters yang sama sekali tidak berhubungan dengan matematika.

Mesin hitung buatan Pascal kemudian menjadi cikal-bakal pengembangan mesin hitung serupa seperti yang dibuat oleh seorang matematikawan dan filsuf Jerman, Gottfred Wilhem von Leibniz (1646-1716). Leibniz menilai mesin hitung ini masih banyak kekurangannya karena hanya terbatas untuk melakukan penjumlahan. Pada tahun 1694, Dengan mempelajari catatan dan gambar-gambar yang dibuat oleh Pascal, Leibniz dapat menyempurnakan alatnya yang mampu memproses perkalian.

Kemudian pada tahun 1820, kalkulator mekanik mulai populer. Charles Xavier Thomas de Colmar menemukan mesin yang dapat melakukan empat fungsi aritmatika dasar. Kalkulator mekanik Colmar yang diberi nama arithometer dapat melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dengan kemampuannya, arithometer banyak dipergunakan hingga masa Perang Dunia I. Bersama-sama dengan ide Pascal dan Leibniz, Colmar membantu membangun era komputasi mekanikal.

Pada tahun 1822 seorang profesor matematika Inggris, Charles Babbage (1791-1871), menemukan suatu mesin untuk melakukan perhitungan persamaan diferensial. Mesin tersebut dinamakan Mesin Diferensial. Babbage terinspirasi untuk memulai membuat komputer general-purpose yang pertama, yang disebut Analytical Engine. (Fitriansyah, Staf CEO Forum Rektor Indonesia).***

Muat Pikiran-Rakyat Edisi Cetak – Kamis, 20 September 2007


Actions

Information

One response

28 12 2009
aini

msh kurang jelass ,mhn dtambah.asal usul udah,tp kisah dia menemukn segitiga pascal nggk ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: