Dalam Sunyi, Melawan Diskriminasi

1 11 2007

gordimerb.jpg TULISAN dapat menjadi gambaran sosok penulisnya sebagai pelayan kemanusiaan, sejauh dia menggunakan kata untuk memercayai kompleksitas kebenaran. Nadine Gordimer tahu benar hal itu. Sebagai penulis dan aktivis anti-apartheid di Afrika Selatan (Afsel), perempuan kelahiran 20 November 1923 itu mengalami, atau setidaknya, melihat sendiri bagaimana pahitnya memperjuangkan kebenaran.

Ia seorang novelis dan penulis cerita pendek terkemuka. Reputasinya tak terbantahkan karena menulis banyak sisi rasisme. Kekuatan tulisannya terletak pada kedalaman wawasan, kekuatan dialog tokoh yang realistik, tulisan yang hidup, dan gaya ironinya terhadap ketidakadilan sosial di Afsel karena politik apartheid

Gordimer mampu menghasilkan karya yang tersusun rapi dan analisis yang brilian. Tulisannya mampu menerjemahkan kemiskinan di Afsel tak sebatas kemiskinan material. Lebih jauh, kemiskinan jiwa yang meruyak dan kemiskinan bahasa dalam kebisuan.

Aktivitasnya dalam menulis sastra untuk memperjuangkan gerakan antiapartheid membuat Gordimer kebanjiran penghargaan internasional. Itu dimulai pada 1961 (W. H. Smith Commonwealth Literary Award dari Inggris) dan Booker Prizer pada 1974 untuk karyanya The Conservationist. Puncaknya adalah pada 1991, saat ia menerima Nobel untuk sastra. Ketika menerima Nobel tahun 1991, Presiden F.W. de Klerk tidak memberikan ucapan selamat kepada Gordimer karena pemerintah apartheid masih berkuasa.

Gordimer lahir di sebuah kota pertambangan di luar Johanesburg. Di sana, ia sering melihat ketidakadilan atas perlakuan diskriminatif terhadap kulit hitam. Peristiwa itu melahirkan sikap menentang politik apartheid, sistem yang membagi golongan manusia secara ekstrem.

Ia baru benar-benar terlibat dalam aktivitas anti-apartheid saat sahabatnya, Bettie du Toit, ditangkap pada 1960. Gordimer kemudian bersahabat dengan para pengacara Nelson Mandela, Bram Fischer dan George Bizos, saat pemimpin kulit hitam itu diadili pada 1962. Ketika Mandela dibebaskan dari penjara pada 1990, Gordimer termasuk salah seorang yang ingin Mandela temui.

Bagi Gordimer yang hidup di tengah pergolakan sosial, pertentangan kelas sangat tajam, dan penerapan sistem apartheid, yang dilakukannya ialah mengkritik rasisme dan ketidakadilan dengan cara elegan. Sikap kritik terhadap apartheid, ia tuangkan melalui tulisan. Dalam tulisannya, Gordimer menggunakan sistem apartheid dan transisi apartheid untuk memotret kemuraman hidup. Tema fundamental dalam karya-karya Gordimer, melibatkan nilai, sikap, dan tingkah laku manusia akibat sistem apartheid di Afsel.

Gordimer berprinsip apa yang ditulis atau katakan akan menjadi kebenaran, sebagaimana karya-karya fiksi yang ditulisnya. Bahkan, ia memperingatkan, ada saatnya seorang penulis berhenti menulis, dan bertindak dalam cara yang lain. Gordimer juga seorang penyangsi (skeptis) dan pengkritik yang keras terhadap rasionalisme yang kaku dan moralitas riasan peradaban Barat.

Sebagai penulis, Gordimer sering kali mendapat ancaman diculik dan dibunuh dari pemerintah Afsel. Namun, tindakan intimidasi itu, tidak memutuskan semangatnya untuk terus berkarya. Puncaknya, novel Burger Daughter (1979) yang ditulis setelah kerusuhan Suweto dilarang beredar oleh pemerintah Afsel.

Dalam karyanya yang lain, Occasion for Loving (1963) ia bercerita tentang hubungan cinta antara pria hitam dan gadis putih dan The Late Bourgeois World (1966) tentang hubungan antara pembantu hitam dan majikan putih. Kedua novel tersebut mengangkat tema menentang antirasialisme, tak peduli dari ras dan agama apa mereka berasal. Gordimer juga mengkritik situasi yang chaotic, setelah apartheid bubar, dalam The House Gun (1998).

Ia menjadi saksi, di saat-saat terakhir menjelang kehancuran apartheid dan sisa-sisa kolonialisme abad ke-20. Gordimer berusaha melayani masyarakat dengan tulisan, semampu yang bisa dilakukan, dengan mempertaruhkan keberanian dan kejujuran dalam membela idealisme. Dengan cara sendiri, dia ikut mendukung arus perubahan di Afsel. (Fitriansyah, alumnus Stikom Bandung)

Dalam Pikiran-Rakyat, Suplemen Kampus, Kamis 1 November 2007


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: