Stephanie Kwolek (1923-Sekarang)

31 10 2008

Kevlar, Penakluk Peluru

PENEMUAN serat karbon (kevlar) ternyata memberikan manfaat yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Salah satunya dalam pembuatan rompi antipeluru. Rompi ini berbahan dasar logam jenis baja atau titanium, keramik atau jenis polimer yang dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap bagian-bagian vital pemakainya. Kevlar yang dikenal juga sebagai twaron dan poli-parafenilen tereftalamida diciptakan oleh Stephanie Kwolek, seorang penemu asal Kensington, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Stephanie Kwolek lahir pada tahun 1923 di Kensington, Pennsylvania. Semenjak kecil ia sudah tertarik padanet ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran. Semenjak ayahnya meninggal ketika Stephanie berumur 10 tahun, dia bertekad untuk lebih mendalami bidang sains. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia mendaftarkan diri kuliah di Carnegie Institute of Technology. Begitu lulus dari bangku kuliah, Stephanie langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan Dupont Chemicals.

Tahun 1965 menjadi puncak karier bagi Stephanie Kwolek. Bersama rekan kerjanya, Herbert Blades, ia melakukan riset yang menghasilkan serat fiber yang luar biasa kuat, ringan, dan fleksibel. Dengan sokongan dana dari perusahaan DuPont dan teknologi fiber, mereka berhasil membuat penemuan yang brilian. Kevlar merupakan merek dagang yang terdaftar oleh E.I. de Pont de Nemours and Company.

Setelah melakukan kerja keras selama beberapa tahun, Stephanie memublikasikan temuannya itu, kevlar pun diluncurkan pada tahun 1971. Karena kevlar sangat fleksibel, penggunaannya menjadi sangat populer.

Awal 1970-an, kevlar diproduksi untuk bahan pelapis berbagai kebutuhan industri di dunia. Di antaranya industri otomotif yang kerap menggunakan kevlar untuk peranti keselamatan ataupun bagian-bagian lain otomotif. Bahkan, mulai dari sarung tangan oven di dapur hingga rompi antipeluru menggunakan lapisan kevlar.

Di dunia militer, kevlar digunakan untuk bahan rompi antipeluru modern. Kevlar dikenal juga sebagai suatu serat sintetik yang kekuatannya lima kali kekuatan tembaga, dengan berat yang sama. Rompi ini melindungi pemakainya dengan cara menahan laju peluru. Ketika rompi menahan penetrasi peluru, dorongan dari peluru direduksi dengan menyebarkan momentumnya ke seluruh tubuh.

Kendati demikian, pemakainya tetap akan merasakan energi kinetik dari peluru, hal ini dapat menyebabkan luka memar, bengkak, atau luka dalam yang cukup serius. Kevlar sangat tahan terhadap panas dan terdekomposisi di atas 400 derajat Celsius tanpa meleleh. Dengan penggunaan rompi berbahan kevlar, bisa meminimalkan cedera karena terkena peluru.

Setelah ditemukan kevlar, bahan antipeluru lain terus dikembangkan, di antaranya DSM`s Dyneema, Akzo`s Twaron, Toyobo`s Zylon, Honeywell`s GoldFlex, semuanya merupakan merek dagang. Bahan-bahan yang baru ini lebih ringan, tipis, dan lebih tahan dibandingkan dengan kevlar, namun harganya lebih mahal. Kevlar sekarang hampir identik dengan teknologi tinggi untuk bahan yang bisa tahan panas, lima kali lebih kuat sebagai baja, dan lebih ringan dari fiberglass.

Berkat jasanya, pada tahun 1999, Stephanie Kwolek memenangi 1999 Lemelson-MIT Lifetime Achievement Award. Selain itu, Kwolek juga menerima berbagai penghargaan lain

(Fitriansyah, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)

Dalam Pikiran Rakyat, Cakrawala Edisi 30 Oktober 2008


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: